Iman dan Solidaritas

Iman dan Solidaritas

Ikhwani fiddin a’azzaniyallahu waiyyakum,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakwaan. Dengan begitu, kita akan semakin mampu berpegang teguh dengan agama-Nya. Sehingga kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak.

Allah SWT menyatakan di dalam Al Quran:

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ…﴾

Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara… (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa semua orang Mukmin adalah saudara dalam agama. Maknanya—menurut Imam al-Baghawi di dalam Ma’âlim at-Tanzîl dan Imam al-Khazin dalam Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’âni at-Tanzîl—adalah bersaudara dalam agama dan al-wilâyah (perwalian)/al-walâyah (pertologan). Continue reading Iman dan Solidaritas

Tatacara Qunut Nazilah

 TATACARA QUNUT NAZILAH

Oleh KH Hafidz Abdurrahman
(Khadim Ma’had Syaraful Haramain)

Definisi Qunut Nazilah

Lafadz Qunut biasanya digunakan untuk beberapa makna. Yang dimaksud dengan qunut di sini adalah doa di dalam shalat, pada tempat tertentu ketika berdiri (i’tidal). Ibn al-Qayyim berpendapat, “Qunut digunakan untuk menunjukkan makna berdiri, diam, kontinuitas ibadah, doa, membaca tasbih dan khusyu’.” (Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma’ad, I/276). Al-Hafidz ibn Hajar dalam kitabnya, Fath al-Bari, menukil penjelasan gurunya, Zainuddin al-‘Iraqi menyatakan, bahwa qunut mempunyai banyak makna, lebih dari sepuluh makna, yaitu doa, khusyu’, ibadah, berdiam lama ketika menjalankannya, shalat, puasa, lama berpuasa dan kontinuitas taat.. (Ibn Hajar, Fath al-Bari, ).

Qunut Nazilah adalah doa pada saat ada peristiwa yang menimpa kaum Muslim, dengan tujuan untuk menyingkirkan atau melenyapkan penganiayaan musuh, menyingkirkan bala’ (bencana), dan sebagainya. Imam an-Nawawi, dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan, “Yang benar dan paling masyhur adalah, bahwa kalau terjadi sesuatu seperti musuh, epidemi, kelaparan dan bahaya yang nyata menimpa kaum Muslim, dan sejenisnya, maka mereka melakukan qunut pada semua shalat wajib.” (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, ) Continue reading Tatacara Qunut Nazilah

IDUL ADHA: Tingkatkan Ketaatan, Wujudkan Persatuan

Khutbah Idul Adha 1438 H / 2017 M

IDUL ADHA: Tingkatkan Ketaatan, Wujudkan Persatuan

أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْني وَ إِيِاكُمْ بِتَقْوَاللهِ، لَعَلَّكْمْ تُفْلِحُوْنَ فِي الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا وَ اْلأَخِرَةْ.

Alhamdulillâhi Rabbi al-âlamîn, segala pujian milik Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan dan suri teladan kita, Rasulullah Muhammad saw.; kepada keluarga dan para shahabatnya; serta kepada seluruh umatnya yang senantiasa menaati risalahnya dan berjuang tak kenal lelah untuk menerapkan dan menyebarluaskan risalah itu ke seluruh pelosok dunia hingga akhir zaman. Continue reading IDUL ADHA: Tingkatkan Ketaatan, Wujudkan Persatuan

Fase-Fase Kehidupan Manusia

Fase-Fase Kehidupan Manusia

Pada dasarnya, al-Quran dan Sunnah telah menjelaskan fase-fase kehidupan yang dilalui oleh manusia dengan sangat rinci dan jelas.  Fase-fase ini dijelaskan dengan sangat rinci, agar manusia memahami jati dirinya (hakekat diri), visi dan misi hidupnya di dunia, serta ke mana dirinya akan kembali setelah kehidupan dunia.
Continue reading Fase-Fase Kehidupan Manusia

Hukum Tajassus (Spionase)

HUKUM TAJASSUS (SPIONASE)

DEFINISI DAN FAKTA TAJASSUS

           Tajassus adalah mengorek-ngorek suatu berita.  Secara bahasa bila dikatakan, jassa al-akhbar wa tajassasaha, artinya adalah mengorek-mengorek suatu berita.  Jika seseorang mengorek-ngorek berita, baik berita umum maupun rahasia, maka ia telah melakukan aktivitas tajassus (spionase).  Orang semacam ini disebut jaasus (mata-mata). Suatu aktivitas bisa terkategori tajassus (spionase), jika di dalamnya ada unsur mengorek-ngorek (mencari-cari)  berita.  Sedangkan berita yang dikorek-korek (dicari-cari itu) tidak harus berita rahasia.  Akan tetapi semua berita, baik umum maupun rahasia.  Walhasil, tajassus adalah mencari-cari berita baik yang tertutup, maupun yang jelas.  Continue reading Hukum Tajassus (Spionase)

Hukum Menggadaikan Barang/Jaminan Hutang

       Istilah di dalam bahasa Arab yang memiliki makna sepadan dengan kata ‘gadai’ adalah al-rahn. Secara syar’i, al-rahn berarti harta yang dijadikan sebagai jaminan bagi suatu hutang, untuk dibayarkan kepada orang yang dihutangi apabila tidak dapat melunasi hutangnya (lihat al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah II/351).     secara syar’i, praktek al-rahn atau gadai itu diperbolehkan. Continue reading Hukum Menggadaikan Barang/Jaminan Hutang

Hukum Sholat Jum’at Bersamaan Dengan Hari Idul Fitri/Adha

1. Pendahuluan

Seperti kita ketahui, terkadang hari raya Idul Fitri atau Idul Adha jatuh pada hari Jumat. Misalnya saja yang terjadi pada ini, Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1438 H jatuh pada hari Jumat 27 Nopember 2017. Di sinilah mungkin di antara kita ada yang bertanya, apakah sholat Jumat masih diwajibkan pada hari raya? Apakah kalau seseorang sudah sholat Ied berarti boleh tidak sholat Jumat? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan semacam itu dengan melakukan penelusuran pendapat ulama, dalil-dalilnya, dan pentarjihan (mengambil yang terkuat) dari dalil-dalil tersebut. Continue reading Hukum Sholat Jum’at Bersamaan Dengan Hari Idul Fitri/Adha

Amal yang Paling Baik (Tafsir Surat Al Mulk Ayat 2)

 الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.[TQS Al Mulk (67) : 2]

Continue reading Amal yang Paling Baik (Tafsir Surat Al Mulk Ayat 2)

Definisi dan Hukum Ghibah (Menggunjing)

Ghibah adalah menceritakan saudara kita dengan sesuatu yang tidak disukainya. Ghibah termasuk perbuatan haram.  Keharaman ghibah ditetapkan berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.  Di dalam Al-Quran, Allah swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing (ghibah) sebagian yang lain.   Sukakah,  salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya sendiri yang telah mati?  Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.  Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”[al-Hujurat:12] Continue reading Definisi dan Hukum Ghibah (Menggunjing)