Category Archives: Tafsir

Mengenal Ulil Amri

Siapakah Ulil Amriy?

           Para ‘ulama tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan kata ulil amriy.  Sebagian ‘ulama menafsirkan ulil amriy dengan penguasa.  ‘Ulama yang lain menafsirkan ulil amriy dengan ‘ulama.  Ada pula yang menafsirkan ulil amriy dengan penguasa dan ‘ulama.   Ada juga yang berpendapat bahwa, yang dimaksud dengan ulil amriy adalah shahabat Rasulullah.  Ada pula yang berpendapat khusus untuk Abu Bakar dan ‘Umar ra.

Menurut Imam Thabariy, sebagian ‘ulama tafsir menafsirkan kata “ulil amriy” dengan “al-umaraa’” (penguasa).[1]  Mufassir yang memegang pendapat ini adalah, al-A’masy, Abu Shalih, Abu Hurairah, dan lain-lain.   Continue reading Mengenal Ulil Amri

Tafsir Al Ahzab 36: Maksiat, Sesat dan Diancam Azab

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36).

Continue reading Tafsir Al Ahzab 36: Maksiat, Sesat dan Diancam Azab

Tafsir Annur 48-50: Ciri Kaum Munafik, Diskriminatif terhadap Hukum Syara’

“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku dzalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dzalim” (TQS al-Nur [4]: 48-50). Continue reading Tafsir Annur 48-50: Ciri Kaum Munafik, Diskriminatif terhadap Hukum Syara’

Tafsir Surat Al Falaq

“Adapun perkara-perkara yang berkaitan dengan cabang-cabang fikih, maka perbuatan sihir (menyihir) adalah haram; dan termasuk dosa besar menurut ijma’ (kesepakatan). Telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab al-Iman, bahwasanya Rasulullah saw menghitung sihir termasuk dalam 7 perkara yang membinasakan. [Imam Abu Zakariya an-Nawawiy asy Syafi’iy rahimahullah ta’ala: [Syarah Shahih Muslim, Juz 14/176]”

 قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

  • Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, (2) dari kejahatan makhlukNya, (3) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (4) dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, (5)  dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”.

Muqaddimah

       Surat al-Falaq termasuk surat Makiyah. Di dalamnya ada pengajaran bagi manusia agar memohon perlindungan kepada al-Rahman, dan agar mereka berlindung dengan Keagungan dan KekuasaanNya dari kejahatan semua makhlukNya, dari kejahatan saat malam semakin gelap, dari keburukan orang-orang dengki dan tukang sihir. [Syaikh Ali Ash-Shabuniy, Shafwat al-Tafaasiir, Juz 3/623] Continue reading Tafsir Surat Al Falaq

Tafsir Surat Al Ahzab 36: Maksiat, Sesat dan Diancam Azab

Pengakuan menjadi Muslim, meniscayakan sejumlah konsekuensi. Di antaranya adalah kewajiban mengikuti semua keputusan Allah Swt dan Rasul-Nya. Tidak boleh memiliki pilihan lain dalam perkara yang telah diputuskan-Nya. Sengaja memilih pilihan lain, berarti telah berbuat durhaka terhadap keduanya.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36).

Continue reading Tafsir Surat Al Ahzab 36: Maksiat, Sesat dan Diancam Azab

Tafsir Surat al-Ikhlash: Dasar – Dasar Tauhid

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (2) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan (3) dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (4). Continue reading Tafsir Surat al-Ikhlash: Dasar – Dasar Tauhid

Tafsir Al Anfal 25: Siksaan Tidak Hanya Menimpa Orang Dzalim Saja

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS al-Anfal [8]: 25)

Makna Umum Ayat

Ayat di atas merupakan salah satu ayat teragung, sekaligus paling menegakkan bulu roma, yang berkaitan dengan amar makruf nahi mungkar. Banyak kitab dakwah yang menjadikan ayat di atas sebagai pendorong aktivitas amar makruf nahi mungkar.[1] Ayat tersebut berisi peringatan untuk berhati-hati (hadzr) akan siksaan (azab) yang menimpa secara umum, baik yang zalim maupun yang tidak zalim. Karena itu, secara syar‘î, bagi orang yang melihat kezaliman/kemungkaran dan mempunyai kesanggupan, wajib hukumnya untuk menghilangkan kemungkaran itu.[2] Inilah cara menghindarkan diri dari siksaan itu, yakni dengan melakukan amar makruf nahi mungkar terhadap pihak yang berbuat zalim atau mungkar.[3] Continue reading Tafsir Al Anfal 25: Siksaan Tidak Hanya Menimpa Orang Dzalim Saja

Menjaga Pandangan

Pada dasarnya, Islam telah mewajibkan kaum Muslim dan Muslimat untuk menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Allah swt berfirman;

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”[Al-Nuur:30] Continue reading Menjaga Pandangan

Tafsir Surat Al Ankabut 2-3: Ujian Kebenaran Iman

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ (٣)

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (TQS al-Ankabut [29]: 2-3).         Continue reading Tafsir Surat Al Ankabut 2-3: Ujian Kebenaran Iman

Tafsir Surat Yasin 12: Pahala dan Dosa yang Mengalir

Allah Swt berfirman dalam Surat Yasin Ayat 12:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

_Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (al-lawh al-mahfûzh)_ (QS Yasin [36]: 12).

Continue reading Tafsir Surat Yasin 12: Pahala dan Dosa yang Mengalir