Category Archives: Syariah

Hukum Bersalaman setelah Sholat

Benarkah bersalaman setelah selesai sholat berjama’ah bid’ah yang diharamkan? Adakah fatwa dari ulama mu’tabar mengenai masalah ini?

              Mushafahah (berjabat tangan) seorang Muslim dengan saudara Muslimnya ketika bertemu, hukum asalnya adalah mustahab (sunnah).   Sebab, mushafah bisa memperkuat persatuan dan kecintaan sesama kaum Muslim.    Banyak nash syariat menunjukkan bahwa mushafahah merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh para shahabat, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam ahli hadits yang lain.   Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Qatadah, bahwasanya ia berkata:

قُلْتُ لِأَنَسٍ أَكَانَتِ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ

“Saya bertanya kepada Anas ra, apakah jabat tangan dilakukan oleh para shahabat Nabi saw.  Beliau menjawab, “Iya”.[HR. Imam Bukhari] Continue reading Hukum Bersalaman setelah Sholat

Hukum Memendekkan Kumis dan Memanjang Jenggot

Memendekkan Kumis

Ketentuan memendekkan kumis terdapat di dalam hadits-hadits berikut ini:

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi saw, bahwasanya beliau saw bersabda:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Selisihilah orang-orang Musyrik, panjangkanlah jenggot dan cukurlah kumis”. [HR Imam Bukhari.  Imam Muslim meriwayatkannya dengan lafadz:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى

“Selisihilah orang-orang Musyrik, cukurlah kumis, dan biarkanlah jenggot”. [HR. Imam Muslim] Continue reading Hukum Memendekkan Kumis dan Memanjang Jenggot

Syahid dan Hukumnya

Definisi Syahid

          Di dalam kamus Mukhtaar al-Shihaah, Imam al-Raziy menyatakan, bahwa al-syahiid  bermakna al-qatiil fi sabilillah (orang yang gugur di jalan Allah).[1]  Al-Barkatiy, di dalam Qawa’id al-Fiqhiyyah menyatakan, “al-Syahadah kadang-kadang merupakan sebutan dari al-Syahiid; yakni al-qathlu fi sabilillah (gugur di jalan Allah).”[2] Continue reading Syahid dan Hukumnya

Tafsir Surat Al Falaq

“Adapun perkara-perkara yang berkaitan dengan cabang-cabang fikih, maka perbuatan sihir (menyihir) adalah haram; dan termasuk dosa besar menurut ijma’ (kesepakatan). Telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab al-Iman, bahwasanya Rasulullah saw menghitung sihir termasuk dalam 7 perkara yang membinasakan. [Imam Abu Zakariya an-Nawawiy asy Syafi’iy rahimahullah ta’ala: [Syarah Shahih Muslim, Juz 14/176]”

 قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

  • Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, (2) dari kejahatan makhlukNya, (3) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (4) dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, (5)  dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”.

Muqaddimah

       Surat al-Falaq termasuk surat Makiyah. Di dalamnya ada pengajaran bagi manusia agar memohon perlindungan kepada al-Rahman, dan agar mereka berlindung dengan Keagungan dan KekuasaanNya dari kejahatan semua makhlukNya, dari kejahatan saat malam semakin gelap, dari keburukan orang-orang dengki dan tukang sihir. [Syaikh Ali Ash-Shabuniy, Shafwat al-Tafaasiir, Juz 3/623] Continue reading Tafsir Surat Al Falaq

Tazayyun (Berhias) dan Tabarruj

Kebolehan Tazayyun (Berhias)

        Salah satu fithrah yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah kecenderungan untuk menyukai keindahan, kebersihan, dan kerapian.  Kecenderungan-kecenderungan ini merupakan sifat-sifat yang tidak mungkin dihapuskan dari diri manusia.   Oleh karena itu, Islam telah mensyariatkan sejumlah hukum yang berhubungan dengan fithrah-fithrah tersebut.  Misalnya, Islam telah mewajibkan mandi bagi orang yang berhadats besar, dan wudlu’ bagi orang yang berhadats kecil. Islam juga mewajibkan kaum Muslim untuk membersihkan najis yang mengenai badan, pakaian, dan tempat tinggalnya.  Lebih dari itu, Islam juga mengatur hukum-hukum yang berkaitan dengan menghias diri, memakai wewangian, berbusana, dan lain sebagainya. Continue reading Tazayyun (Berhias) dan Tabarruj

BENARKAH ADA “FIQIH WARIA”?

“Rasulullah saw. telah melaknat laki-laki yang menjadi perempuan, yaitu mereka yang menyerupai kaum perempuan. Juga melaknat perempuan yang menjadi laki-laki, yaitu yang menyerupai laki-laki.” [Hr. Ahmad, dinyatakan sahih oleh al-Arna’uth]

Para fuqaha’ memang telah membahas pembahasan khusus tentang khuntsâ [hermaprodit]. Secara harfiah, khuntsâ diambil dari lafadz khunts, yang berarti lembut [layyin]. Jika disebut, khanatstu as-syai’a fatakhannatsa, maksudnya ‘athiftu fa ta’atthafa [aku bersikap lembut kepadanya, sehingga dia menjadi lembut].

Dalam Mu’jam Lughat al-Fuqaha’, Prof. Dr. Rawwas Qal’ahji menyatakan:

الَّذِيْ لَهُ آلَةُ الذَّكَرِ وَآلَةُ الأُنْثَى، أَوِ الَّذِيْ يَبُوْلُ مِنْ ثَقْبٍ وَلَيْسَ لَهُ آلَةُ ذَكَرٍ وَلاَ آلَةُ أُنْثَى.

“Orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki, dan alat kelamin perempuan. Atau orang yang kencing melalui saluran, dimana dia tidak mempunyai alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan.”

Sedangkan istilah Mukhannats, digunakan untuk menyebut orang yang menyerupai wanita dalam hal kelemahlembutan, ucapan, pandangan, gerak-gerik, dan sebagainya. Biasanya mereka dilahirkan sebagai laki-laki, namun mempunyai beberapa karakter seperti perempuan. Ada juga yang memang lahir sebagi laki-laki, dan karakternya pun laki-laki, tetapi berpenampilan seperti perempuan. Mereka inilah yang disebut oleh Nabi sebagai mukhannatsîna min ar-rijâl [laki-laki yang bergaya perempuan]. Continue reading BENARKAH ADA “FIQIH WARIA”?

Definisi dan Hukum Fitnah (Al-Buht)

Fitnah (al-buht) adalah menceritakan sesuatu yang ada pada diri seseorang kepada orang lain padahal sesuatu itu tidak pernah ada pada diri orang tersebut, atau tidak pernah dilakukan orang tersebut. Fitnah (al-buht) termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Kata al-buht berasal dari kata ”bahata-yabhatu-bahtan-buhtaan”, yang bermakna ”bahhaat”, yakni orang yang mengatakan apa yang tidak dilakukan oleh seseorang”. [Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-’Arab, Juz 2, hal. 12].  Dalam bahasa Indonesia, kata al-buht diterjemahkan dengan arti fitnah.   Fitnah (al-buht) adalah menceritakan sesuatu yang ada pada diri seseorang kepada orang lain padahal sesuatu itu tidak pernah ada pada diri orang tersebut, atau tidak pernah dilakukan orang tersebut.   Dengan kata lain al-buht (fithnah) adalah melemparkan kedustaan (al-kadzb) kepada seseorang. Fitnah (al-buht) termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam.  Alasannya, fitnah tidak saja akan mencemari dan merusak kehormatan seseorang, lebih dari itu, fitnah juga akan menyulut terjadi perselisihan, pertengkaran, dan adu domba.  Sedangkan perselisihan, pertengkaran, dan adu domba adalah faktor-faktor yang bisa merusak kesatuan dan kerukunan. Continue reading Definisi dan Hukum Fitnah (Al-Buht)

Menjaga Pandangan

Pada dasarnya, Islam telah mewajibkan kaum Muslim dan Muslimat untuk menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Allah swt berfirman;

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”[Al-Nuur:30] Continue reading Menjaga Pandangan