Category Archives: Syariah

Definisi dan Hukum Fitnah (Al-Buht)

Fitnah (al-buht) adalah menceritakan sesuatu yang ada pada diri seseorang kepada orang lain padahal sesuatu itu tidak pernah ada pada diri orang tersebut, atau tidak pernah dilakukan orang tersebut. Fitnah (al-buht) termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Kata al-buht berasal dari kata ”bahata-yabhatu-bahtan-buhtaan”, yang bermakna ”bahhaat”, yakni orang yang mengatakan apa yang tidak dilakukan oleh seseorang”. [Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-’Arab, Juz 2, hal. 12].  Dalam bahasa Indonesia, kata al-buht diterjemahkan dengan arti fitnah.   Fitnah (al-buht) adalah menceritakan sesuatu yang ada pada diri seseorang kepada orang lain padahal sesuatu itu tidak pernah ada pada diri orang tersebut, atau tidak pernah dilakukan orang tersebut.   Dengan kata lain al-buht (fithnah) adalah melemparkan kedustaan (al-kadzb) kepada seseorang. Fitnah (al-buht) termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam.  Alasannya, fitnah tidak saja akan mencemari dan merusak kehormatan seseorang, lebih dari itu, fitnah juga akan menyulut terjadi perselisihan, pertengkaran, dan adu domba.  Sedangkan perselisihan, pertengkaran, dan adu domba adalah faktor-faktor yang bisa merusak kesatuan dan kerukunan. Continue reading Definisi dan Hukum Fitnah (Al-Buht)

Menjaga Pandangan

Pada dasarnya, Islam telah mewajibkan kaum Muslim dan Muslimat untuk menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Allah swt berfirman;

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”[Al-Nuur:30] Continue reading Menjaga Pandangan

Pengaturan Hubungan Pria dan Wanita dalam Islam

Islam telah menetapkan hukum-hukum Islam tertentu yang berkenaan dengan interaksi pria dan wanita. Hukum-hukum tersebut banyak sekali jumlahnya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Islam telah memerintahkan kepada manusia, baik pria maupun wanita, untuk menundukkan pandangan. Allah SWT berfirman:

قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡ‌ۚ ذَٲلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ (٣٠) وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَـٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” (TQS an-Nûr [24]: 30-31) Continue reading Pengaturan Hubungan Pria dan Wanita dalam Islam

Pakaian Syar’iy Wanita di Kehidupan Umum – Khimar dan Jilbab

Pakaian yang telah ditetapkan oleh syariat Islam bagi wanita ketika ia keluar di kehidupan umum adalah khimar dan jilbab. Khimar adalah kain kerudung (penutup kepala) yang diulurkan hingga menutupi dada wanita. Jilbab adalah pakaian luas (baju kurung/Gamis) yang dikenakan di atas pakaian biasa (pakaian sehari-hari), dan ia wajib diulurkan hingga ke bawah kaki. Continue reading Pakaian Syar’iy Wanita di Kehidupan Umum – Khimar dan Jilbab

Kedudukan Non Muslim Dalam Penerapan Syariat Islam

Bila syari’at Islam diterapkan, lalu bagaimana nasib non muslim.  Apakah mereka akan dikebiri hak-hak keberagamaan mereka?  Apakah mereka akan diusir dari negara Islam?  Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering dijadikan dalih untuk menolak penerapan syari’at Islam.  Mereka berdalih, bila syari’at Islam diterapkan, hak-hak minoritas akan dipinggirkan dan dikucilkan.  Bahkan, penerapan hukuman-hukuman pidana Islam akan berdampak pada pelanggaran HAM.  Untuk menjawab keraguan ini, kami akan paparkan kedudukan non muslim dalam Daulah Khilafah Islamiyyah.

Dalam Daulah Khilafah Islamiyyah, orang non muslim maupun muslim akan mendapatkan perlakuan sesuai dengan ketentuan-ketentuan syara’.   Hak mereka sebagai warga negara dijamin penuh oleh negara Islam. Continue reading Kedudukan Non Muslim Dalam Penerapan Syariat Islam

Tatacara Qunut Nazilah

 TATACARA QUNUT NAZILAH

Oleh KH Hafidz Abdurrahman
(Khadim Ma’had Syaraful Haramain)

Definisi Qunut Nazilah

Lafadz Qunut biasanya digunakan untuk beberapa makna. Yang dimaksud dengan qunut di sini adalah doa di dalam shalat, pada tempat tertentu ketika berdiri (i’tidal). Ibn al-Qayyim berpendapat, “Qunut digunakan untuk menunjukkan makna berdiri, diam, kontinuitas ibadah, doa, membaca tasbih dan khusyu’.” (Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma’ad, I/276). Al-Hafidz ibn Hajar dalam kitabnya, Fath al-Bari, menukil penjelasan gurunya, Zainuddin al-‘Iraqi menyatakan, bahwa qunut mempunyai banyak makna, lebih dari sepuluh makna, yaitu doa, khusyu’, ibadah, berdiam lama ketika menjalankannya, shalat, puasa, lama berpuasa dan kontinuitas taat.. (Ibn Hajar, Fath al-Bari, ).

Qunut Nazilah adalah doa pada saat ada peristiwa yang menimpa kaum Muslim, dengan tujuan untuk menyingkirkan atau melenyapkan penganiayaan musuh, menyingkirkan bala’ (bencana), dan sebagainya. Imam an-Nawawi, dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan, “Yang benar dan paling masyhur adalah, bahwa kalau terjadi sesuatu seperti musuh, epidemi, kelaparan dan bahaya yang nyata menimpa kaum Muslim, dan sejenisnya, maka mereka melakukan qunut pada semua shalat wajib.” (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, ) Continue reading Tatacara Qunut Nazilah

Hukum Tajassus (Spionase)

HUKUM TAJASSUS (SPIONASE)

DEFINISI DAN FAKTA TAJASSUS

           Tajassus adalah mengorek-ngorek suatu berita.  Secara bahasa bila dikatakan, jassa al-akhbar wa tajassasaha, artinya adalah mengorek-mengorek suatu berita.  Jika seseorang mengorek-ngorek berita, baik berita umum maupun rahasia, maka ia telah melakukan aktivitas tajassus (spionase).  Orang semacam ini disebut jaasus (mata-mata). Suatu aktivitas bisa terkategori tajassus (spionase), jika di dalamnya ada unsur mengorek-ngorek (mencari-cari)  berita.  Sedangkan berita yang dikorek-korek (dicari-cari itu) tidak harus berita rahasia.  Akan tetapi semua berita, baik umum maupun rahasia.  Walhasil, tajassus adalah mencari-cari berita baik yang tertutup, maupun yang jelas.  Continue reading Hukum Tajassus (Spionase)

Hukum Menggadaikan Barang/Jaminan Hutang

       Istilah di dalam bahasa Arab yang memiliki makna sepadan dengan kata ‘gadai’ adalah al-rahn. Secara syar’i, al-rahn berarti harta yang dijadikan sebagai jaminan bagi suatu hutang, untuk dibayarkan kepada orang yang dihutangi apabila tidak dapat melunasi hutangnya (lihat al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah II/351).     secara syar’i, praktek al-rahn atau gadai itu diperbolehkan. Continue reading Hukum Menggadaikan Barang/Jaminan Hutang