Category Archives: Aqidah

Kafir Harbi, Musta’min dan Ahl Adz-Dzimmah

KAFIR HARBI, MUSTA’MIN, DAN AHL ADZ-DZIMMAH
Oleh: KH. Shiddiq al-Jawi,

Pengantar Redaksi:
Istilah-istilah seperti kafir harbi, musta’min, dan ahl adz-dzimmah adalah termasuk istilah yang kurang dikenal umat Islam saat ini. Sebab, istilah-istilah itu berkaitan dengan hukum-hukum jihad dan Khilafah yang memang sudah jauh dari benak dan pengalaman umat Islam sekarang. Di samping itu, jihad sendiri merupakan salah satu hukum Islam yang paling banyak terdistorsi, misalnya jihad secara salah diartikan sebagai aktivitas yang sungguh-sungguh atau sebagai perang melawan hawa nafsu. Continue reading Kafir Harbi, Musta’min dan Ahl Adz-Dzimmah

Musibah dan Muhasabah

MUSIBAH DAN MUHASABAH

Ustadz Arief B. Iskandar

Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah menuturkan, bahwa jika langit mendung, awan menghitam dan angin kencang, wajah Baginda Nabi Muhammad saw.–yang biasanya memancarkan cahaya–akan terlihat pucat-pasi. Sebab takut kepada Allah SWT. Beliau lalu keluar, lalu masuk ke masjid dalam keadaan gelisah seraya berdoa, “Ya Allah…aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hujan dan angin ini, dari keburukan apa saja yang dia kandung dan keburukan apa saja yang dia bawa.” Continue reading Musibah dan Muhasabah

Saat Ajal yang Pasti itu Tiba

SAAT AJAL YANG PASTI ITU TIBA

oleh KH Hafidz Abdurrahman

Hidup adalah rangkaian waktu. Waktu demi waktu terangkai menjadi satu, diberikan kepada setiap manusia sebagai ajal. Iya, itulah tenggat waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita. Karena itu, setiap umat, kaum dan manusia mempunyai ajal, tenggat waktu. Ketika tenggat waktu yang diberikan telah berakhir, maka tak satupun yang bisa meminta ditangguhkan. Begitu juga ketika tenggat waktu itu belum tiba, maka ia pun tak bisa diajukan, meski hanya sesaat. Itulah ajal manusia. Continue reading Saat Ajal yang Pasti itu Tiba

Hakikat Cinta Kepada Allah

           Alangkah bahagianya jika seseorang berhasil meraih dan menggapai cinta Allah swt. Sebab, bila seseorang berhasil mendapatkan cinta Allah, maka hidupnya akan dituntun dan dibimbing oleh Allah swt. Allah akan membimbing penglihatannya tatkala dirinya melihat; Allah akan membimbing pendengarannya, manakala ia mendengarkan.  Sebaliknya,  betapa menyakitkan bila kita merasa mencintai dan dicintai oleh Allah, akan tetapi cinta kita hanya bertepuk sebelah tangan.  Kita merasa mendapatkan kecintaan Allah, akan tetapi sebenarnya kita tidak pernah mendapatkan kecintaan dari Allah swt. Continue reading Hakikat Cinta Kepada Allah

Dasar-Dasar Tauhid: Mengenal Allah

Definisi dan Urgensi Makrifat

          Salah satu unsur terpenting dari keimanan adalah makrifat (mengenal) terhadap semua hal yang berkaitan dengan aqidah (keimanan).  Misalnya, makrifat kepada Allah, Rasulullah saw, malaikat, Nabi dan Rasul, hari akhir, qadla qadar, dan lain sebagainya.

          Secara bahasa, makrifat bermakna mengenal dan mengetahui (‘ilm).  Namun, yang dimaksud dengan makrifat dalam konteks pembahasan ‘aqidah adalah pembenaran (tashdiq) yang bersifat pasti terhadap suatu perkara. Continue reading Dasar-Dasar Tauhid: Mengenal Allah

Memahami Bala’, Musibah dan ‘Adzab

Bala’, Secara literal, al-bala’ bermakna al-ikhtibar (ujian).  Istilah bala’ sendiri digunakan untuk menggambarkan ujian yang baik maupun yang buruk. [Imam al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal. 65].  Dalam kitab al-Tibyaan fi Tafsiir Ghariib al-Quran dinyatakan, bahwa bala’ itu memiliki tiga bentuk; ni’mat (kenikmatan), ikhtibaar (cobaan atau ujian), dan makruuh (sesuatu yang dibenci).[Syihaab al-Diin Ahmad, al-Tibyaan fi Tafsiir Ghariib al-Quran, juz 1/85]    Di dalam al-Quran, kata bala’ disebutkan di enam tempat, dengan makna yang berbeda-beda; [2:49; 7:141; 8:17; 14:6; 37:106; 44:33].   Ada yang bermakna cobaan dan ujian yang dibenci manusia. Ada pula yang berarti kemenangan atau kenikmatan (bala’ hasanan). Continue reading Memahami Bala’, Musibah dan ‘Adzab

Konsekuensi Tauhid

 

Tauhid diambil kata dalam bahasa Arab: wahhada yuwahhidu-tawhid[an]; artinya mengesakan atau menunggalkan. Tauhid satu suku kata dengan kata wâhid (satu) atau kata ahad (esa). Dalam ajaran Islam tauhid berarti keyakinan akan keesaan Allah SWT. Kalimat tauhid ialah kalimat Lâ ilâha illalLâh yang berarti: Tidak ada Tuhan selain Allah. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh  Allah SWT sendiri dalam firman-Nya:

﴿وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ﴾

Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (TQS al-Baqarah [2]: 163). Continue reading Konsekuensi Tauhid

Makna Syahadat Laa Ilaaha illaLlah

Allah SWT berfirman yang terjemahannya:
Katakanlah, “Siapakah Tuhan Pencipta lagit langit yang tujuh dan Pemilik ‘Arsy yang agung?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.” Katakanlah, “Lalu apakah kalian tidak bertakwa?” Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedangkan Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya jika kalian tahu?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.” Katakanlah, “(Kalau demikian), lalu dari jalan manakah kalian ditipu?” Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka dan sungguh mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (TQS al-Mu’minun [23]: 86-90).

Dari makna ayat ini tergambar pengakuan manusia bahwa Allah SWT adalah Al-Khâliq, Yang menciptakan segala sesuatu dan memiliki kekuasaan atas segala sesuatu, dan ini mengharuskan diri mereka untuk hanya menyembah dan mengabdi kepada Allah SWT semata. Dalam banyak ayat al-Quran Allah SWT telah menegaskan bahwa Dialah satu-satunya Zat Yang layak disembah. Allah SWT, misalnya, berfirman:

﴿وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ﴾

Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (TQS al-Baqarah [2]: 163). Continue reading Makna Syahadat Laa Ilaaha illaLlah

Fase-Fase Kehidupan Manusia

Fase-Fase Kehidupan Manusia

Pada dasarnya, al-Quran dan Sunnah telah menjelaskan fase-fase kehidupan yang dilalui oleh manusia dengan sangat rinci dan jelas.  Fase-fase ini dijelaskan dengan sangat rinci, agar manusia memahami jati dirinya (hakekat diri), visi dan misi hidupnya di dunia, serta ke mana dirinya akan kembali setelah kehidupan dunia.
Continue reading Fase-Fase Kehidupan Manusia