Category Archives: Akhlaq

Cara Mendapatkan Malam Lailatul Qodar

Oleh: KH Hafidz Abdurrahman
[Khadim Ma’had dan Majlis Syaraful Haramain]

Tak terasa, Jum’at, 24 Juni 2016 ini, kita sudah memasuki hari ke-19 Ramadhan 1437 H. Itu artinya, malam ini kita telah memasuki sepuluh hari yang terakhir dari Ramadhan tahun ini. Tak terasa memang, tiba-tiba kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir. Begitulah waktu. Waktu adalah kehidupan kita. Karena hidup kita hakikatnya adalah rangkaian waktu. Beruntunglah hidup kita, jika kita yang bisa mengisi rangkaian waktu kita dengan ketaatan. Sebaliknya, merugilah kita, jika rangkaian waktu itu kita sia-siakan, bahkan kita isi dengan kemaksiatan. Continue reading Cara Mendapatkan Malam Lailatul Qodar

SUJUD SYUKUR ATAS MUSIBAH, BOLEHKAH?

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi
Pada dasarnya sujud syukur itu disunnahkan ketika seseorang mendapatkan nikmat atau ketika terhindar dari _niqmah_ (musibah). Mendapatkan nikmat, misalnya lulus ujian sarjana, mempunyai anak, mempunyai rumah baru, dan sebagainya. Terhindar dari _niqmah_ (musibah) misalnya terhindar dari kecelakaan maut, sembuh dari sakit yang berat, lepas dari utang dan riba yang mencekik, dan sebagainya.

Continue reading SUJUD SYUKUR ATAS MUSIBAH, BOLEHKAH?

Hukum Syara’ Seputar Bercanda

Canda (gurauan) dalam bahasa Arab disebut _mizah_ atau _mumaazahah._ Al-Jailany dalam _Syarah Al-Adabul Mufrad,_ mendefinisikan canda adalah berbicara secara ramah dan menciptakan kegembiraan terhadap orang lain. (Ath-Thahthawi, _Senyum dan Tangis Rasulullah,_ hlm. 116).
Hukumnya menurut Imam An-Nawawi adalah mubah (diperbolehkan syariah). (An-Nawawi, _Al-Adzkar,_ hlm.279). Bahkan di dalam kitab itu Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bercanda yang hukum asalnya mubah, dapat naik derajatnya menjadi sunnah juka bertujuan merealisasikan kebaikan, atau untuk menghibur lawan atau untuk mencairkan suasana.

Continue reading Hukum Syara’ Seputar Bercanda

Nasihat untuk Penguasa dan Ulama

“Setiap hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memenuhi kebutuhan rakyatnya. Karena kelelahan, ia lalu duduk menyandar, kemudian pulang ke rumah untuk istirahat sebentar, menghilangkan kepenatan. Putranya kemudian berkata, “Apa yang telah membuat Ayah merasa aman? Padahal kematian setiap saat bisa datang menjemput, sementara di luar mungkin masih ada orang yang membutuhkan Ayah.”
Dalam salah satu masterpiece-nya, At-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, pada bagian awal babnya, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menukil beberapa riwayat sebagai bahan renungan bagi para penguasa, juga para ulamanya.
Suatu hari, saudara kandung al-Bulkhi menemui Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah kemudian berkata, “Nasihatilah aku!”
Orang itu berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendudukkanmu pada kedudukan Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib (yakni sebagai penguasa, pen.). Karena itu, Allah Swt. meminta darimu sifat benar/jujur seperti yang ditunjukkan Ash-Shiddiq (Abu Bakar); Allah memintamu menjadi pembela yang haq dan penumpas yang batil seperti Al-Faruq (Umar); Allah memintamu memiliki rasa malu dan kemurahan seperti Utsman bin Affan; Allah pun memintamu memiliki ilmu dan keadilan seperti yang ditunjukkan Ali bin Abi Thalib.”
“Teruskan,” kata Khalifah…
Orang itu berkata lagi, “Perumpamaanmu seperti mata air, sedangkan seluruh ulama di dunia ini seperti wadahnya. Jika mata air itu jernih, kotornya wadah air tidaklah berbahaya. Namun, jika matairnya kotor, bersihnya wadah air tak ada gunanya.”
Pada waktu lain, suatu malam, Khalifah Harun ar-Rasyid menemui Fudhail bin Iyadh. Saat pintu rumah Ibn Iyadh dibuka, Khalifah menyalami tuan rumah, yang spontan berkata, “Api nerakalah untuk tangan halus ini jika ia tidak selamat dari azab pada Hari Kiamat nanti.”
Ia melanjutkan, “Amirul Mukminin, bersiap-siaplah engkau untuk menjawab pertanyaan Allah kelak, karena sesungguhnya Allah akan menghadapkanmu kepada setiap Muslim atas kebijakanmu terhadap masing-masing dari mereka.”
Mendengar itu, menangislah Harun ar-Rasyid sejadi-jadinya seraya menundukkan kepalanya di dadanya. Saat itu, Abbas, yang mendampinginya, berkomentar, “Celakalah, wahai Fudhail. Engkau telah membunuh Amirul Mukminin!”
Ibn Iyadh menjawab, “Wahai Hamman, justru kamu dan kaummulah yang mencelakakan dia…”
Harun ar-Rasyid lalu berkata kepada Abbas, “Jika ia menyebutmu Hamman, berarti ia menganggapku Fir’aun.”
Setelah menerima nasihat dan kritik Ibn Iyadh, Khalifah Harun ar-Rasyid bukannya marah. Ia kemudian memberi Fudhail bin Iyadh uang 1000 dinar (lebih dari Rp 2 miliar) seraya berkata, “Ini adalah harta halal dari pemberian dan warisan ibuku.”
Ibn Iyadh malah berkata, “Akulah yang menyuruhmu melepaskan kedua tanganmu dari harta dunia dan kembali kepada Penciptamu. Lalu mengapa engkau malah ’melemparkan’-nya kepadaku?!”
Fudhail bin Iyadh sama sekali enggan menerimanya. Ia pun pergi dari hadapan Khalifah.
Dalam riwayat lain, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah ditanya, “Apa penyebab tobatmu?”
Khalifah menjawab, “Suatu hari, aku pernah memukul pembantuku. Pembantuku kemudian berkata kepadaku, ’Ingatlah suatu malam yang esoknya adalah Hari Kiamat.’ Sungguh, sejak itu perkataannya telah menghujam dalam hatiku.”
Kali lain, Khalifah Umar bin Abdul Aziz meminta nasihat kepada Abu Hazim. Abu Hazim lalu berkata, “Jika engkau tidur, taruhlah kematian di bawah kepalamu… Sungguh, kematian itu sangat dekat jaraknya darimu.”
Setiap hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memenuhi kebutuhan rakyatnya. Karena kelelahan, ia lalu duduk menyandar, kemudian pulang ke rumah untuk istirahat sebentar, menghilangkan kepenatan. Putranya kemudian berkata, “Apa yang telah membuat Ayah merasa aman? Padahal kematian setiap saat bisa datang menjemput, sementara di luar mungkin masih ada orang yang membutuhkan Ayah.”
Khalifah Umar menjawab, “Engkau benar.”
Seketika, Khalifah Umar pun bangkit dan pergi kembali menemui rakyatnya. (Al-Ghazali, At-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk. Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, hlm. 23-54, 1988).
*****
Demikianlah, nasihat adalah bagian tak terpisahkan dari para penguasa Muslim pada masa lalu, bahkan telah menjadi ’makanan’ sehari-hari mereka. Sebaliknya, nasihat kepada para penguasa juga tidak pernah lepas dari para ulama, bahkan menjadi ’kebutuhan’ mereka. Banyak para ulama pada masa lalu rela menghabiskan waktunya untuk mengontrol, mengawasi, menasihati, mengkritik sekaligus meluruskan para penguasa—apalagi yang menyimpang—tanpa kenal lelah, rasa khawatir atau takut.
Dengan itulah, dalam sistem Islam, keadilan tetap kukuh meski seandainya bumi runtuh; kezaliman lenyap di bumi yang berdiri tegap.
Tidak aneh jika sepanjang zaman Kekhilafahan Islam pada masa lalu, terlalu banyak kisah-kisah nyata para penguasa Muslim yang menggugah perasaan karena kezuhudan, kerendahatian, keadilan, kejujuran, kemanahan dan kebajikan mereka dalam memimpin rakyatnya. Terlalu banyak pula kisah-kisah nyata para ulama yang menyentuh kalbu karena kewaraan, keberanian dan ketajaman lidah mereka di hadapan para penguasa.
Sudah sepantasnya para penguasa Muslim saat ini menjadikan kisah-kisah di atas sebagai cermin dan pelajaran. Selayaknya mereka senantiasa lapang dada dalam menerima nasihat, bahkan selalu meminta nasihat kepada para ulama.
Sebaliknya, para ulama wajib menyampaikan nasihat kepada penguasa, diminta atau tidak diminta. Sejatinya mereka tidak bermanis-muka dan menyembunyikan kebenaran di hadapan penguasa, apalagi penguasa zalim.
Sayang, dalam kungkungan sistem sekular saat ini, kisah-kisah nyata sarat ’cahaya’ semacam ini lenyap tak berbekas, terkubur oleh kisah-kisah buram yang dipenuhi dengan ragam kezaliman, kesombongan dan kebusukan tingkah para penguasa; terhapus oleh kisah-kisah kelam yang sarat dengan pembiaran, pemasabodohan dan ketidakacuhan para ulama menyaksikan kejahatan para penguasa.
Tidak ada lagi penguasa yang gemar meminta nasihat kepada para ulama. Tidak ada lagi para ulama yang wara, berani dan tajam lidahnya di hadapan para penguasa.
Wajarlah jika dalam sistem sekular seperti saat ini, keadilan sudah lama runtuh meski bumi tetap berdiri kukuh; kezaliman tetap berdiri ’tegap’ meski seandainya bumi lenyap.
Sebuah renungan di bawah ini mungkin berguna bagi para penguasa maupun para ulama—juga kita semua—yang sering lalai menjalankan titah-Nya:
Suatu ketika, Khalifah Umar bin al-Khaththab melayat jenazah. Ketika jenazah itu dikubur, seseorang datang dan meletakkan tangannya di atas kuburan seraya bergumam, “Ya Allah, jika Engkau mengazab dia, itu adalah hak-Mu, karena dia telah bermaksiat kepada-Mu. Jika Engkau merahmati dia, sesungguhnya dia sangat membutuhkan rahmat-Mu. Beruntunglah engkau, wahai mayit, jika engkau bukan seorang penguasa, intelektual, pejabat negara, tokoh masyarakat atau pengumpul pajak.” (Al-Ghazali, 1988: 29).
Wama tawfiqi illa bilLah. []
Oleh: Arief B. Iskandar
(Khadim Majelis an-Nahdhah & Roudhotul Quran)

Ghibah yang dibolehkan menurut Imam An Nawawi dalam Kitab Ar Raudhah

Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Batasan “Ghibah”

“Ghibah” adalah menyebut seseorang di belakang, tentang apa yang tidak disukainya. [Lihat, al-‘Allamah Prof. Dr. Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’, hal. 304]. Hukum asal “Ghibah” adalah haram. Keharaman ini dinyatakan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Q.s. al-Hujurat: 12] Continue reading Ghibah yang dibolehkan menurut Imam An Nawawi dalam Kitab Ar Raudhah

Hukum Mencela Ulama

Kewajiban Menghormati Orang Mukmin Dan Larangan Menyakiti Mereka.

        Al-Quran melarang orang-orang beriman menyakiti saudara Mukmin tanpa ada alasan yang dibenarkan.   Banyak ayat yang menjelaskan masalah ini, di antaranya adalah Firman Allah swt:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58)

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [TQS Al-Ahzab (33): 57-58] Continue reading Hukum Mencela Ulama

Hukum Islam Hoax (Bohong)

“Sungguh kebohongan itu mengantarkan pada kejahatan dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka. Sungguh seorang laki-laki benar-benar berbohong sampai dia ditulis di sisi Allah sebagai pembogong” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ahli Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Profesor Muhammad Alwi Dahlan, menjelaskan bahwa hoax merupakan kabar bohong yang sudah direncanakan oleh penyebarnya. “Hoax merupakan manipulasi berita yang sengaja dilakukan dan bertujuan untuk memberikan pengakuan atau pemahaman yang salah,” ujar Alwi. Dia menjelaskan ada perbedaan antara hoax atau berita bohong biasa karena hoax direncanakan sebelumnya. “Berbeda antara hoax dan berita karena orang salah kutip. Pada hoax ada penyelewengan fakta sehingga menjadi menarik perhatian masyarakat.” Alwi menjelaskan bahwa hoax sengaja disebarkan untuk mengarahkan orang ke arah yang tidak benar. Continue reading Hukum Islam Hoax (Bohong)

Tazayyun (Berhias) dan Tabarruj

Kebolehan Tazayyun (Berhias)

        Salah satu fithrah yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah kecenderungan untuk menyukai keindahan, kebersihan, dan kerapian.  Kecenderungan-kecenderungan ini merupakan sifat-sifat yang tidak mungkin dihapuskan dari diri manusia.   Oleh karena itu, Islam telah mensyariatkan sejumlah hukum yang berhubungan dengan fithrah-fithrah tersebut.  Misalnya, Islam telah mewajibkan mandi bagi orang yang berhadats besar, dan wudlu’ bagi orang yang berhadats kecil. Islam juga mewajibkan kaum Muslim untuk membersihkan najis yang mengenai badan, pakaian, dan tempat tinggalnya.  Lebih dari itu, Islam juga mengatur hukum-hukum yang berkaitan dengan menghias diri, memakai wewangian, berbusana, dan lain sebagainya. Continue reading Tazayyun (Berhias) dan Tabarruj

Definisi dan Hukum Fitnah (Al-Buht)

Fitnah (al-buht) adalah menceritakan sesuatu yang ada pada diri seseorang kepada orang lain padahal sesuatu itu tidak pernah ada pada diri orang tersebut, atau tidak pernah dilakukan orang tersebut. Fitnah (al-buht) termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Kata al-buht berasal dari kata ”bahata-yabhatu-bahtan-buhtaan”, yang bermakna ”bahhaat”, yakni orang yang mengatakan apa yang tidak dilakukan oleh seseorang”. [Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-’Arab, Juz 2, hal. 12].  Dalam bahasa Indonesia, kata al-buht diterjemahkan dengan arti fitnah.   Fitnah (al-buht) adalah menceritakan sesuatu yang ada pada diri seseorang kepada orang lain padahal sesuatu itu tidak pernah ada pada diri orang tersebut, atau tidak pernah dilakukan orang tersebut.   Dengan kata lain al-buht (fithnah) adalah melemparkan kedustaan (al-kadzb) kepada seseorang. Fitnah (al-buht) termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam.  Alasannya, fitnah tidak saja akan mencemari dan merusak kehormatan seseorang, lebih dari itu, fitnah juga akan menyulut terjadi perselisihan, pertengkaran, dan adu domba.  Sedangkan perselisihan, pertengkaran, dan adu domba adalah faktor-faktor yang bisa merusak kesatuan dan kerukunan. Continue reading Definisi dan Hukum Fitnah (Al-Buht)