Category Archives: Akhlaq

Hukum Islam Hoax (Bohong)

“Sungguh kebohongan itu mengantarkan pada kejahatan dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka. Sungguh seorang laki-laki benar-benar berbohong sampai dia ditulis di sisi Allah sebagai pembogong” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ahli Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Profesor Muhammad Alwi Dahlan, menjelaskan bahwa hoax merupakan kabar bohong yang sudah direncanakan oleh penyebarnya. “Hoax merupakan manipulasi berita yang sengaja dilakukan dan bertujuan untuk memberikan pengakuan atau pemahaman yang salah,” ujar Alwi. Dia menjelaskan ada perbedaan antara hoax atau berita bohong biasa karena hoax direncanakan sebelumnya. “Berbeda antara hoax dan berita karena orang salah kutip. Pada hoax ada penyelewengan fakta sehingga menjadi menarik perhatian masyarakat.” Alwi menjelaskan bahwa hoax sengaja disebarkan untuk mengarahkan orang ke arah yang tidak benar. Continue reading Hukum Islam Hoax (Bohong)

Tazayyun (Berhias) dan Tabarruj

Kebolehan Tazayyun (Berhias)

        Salah satu fithrah yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah kecenderungan untuk menyukai keindahan, kebersihan, dan kerapian.  Kecenderungan-kecenderungan ini merupakan sifat-sifat yang tidak mungkin dihapuskan dari diri manusia.   Oleh karena itu, Islam telah mensyariatkan sejumlah hukum yang berhubungan dengan fithrah-fithrah tersebut.  Misalnya, Islam telah mewajibkan mandi bagi orang yang berhadats besar, dan wudlu’ bagi orang yang berhadats kecil. Islam juga mewajibkan kaum Muslim untuk membersihkan najis yang mengenai badan, pakaian, dan tempat tinggalnya.  Lebih dari itu, Islam juga mengatur hukum-hukum yang berkaitan dengan menghias diri, memakai wewangian, berbusana, dan lain sebagainya. Continue reading Tazayyun (Berhias) dan Tabarruj

Definisi dan Hukum Fitnah (Al-Buht)

Fitnah (al-buht) adalah menceritakan sesuatu yang ada pada diri seseorang kepada orang lain padahal sesuatu itu tidak pernah ada pada diri orang tersebut, atau tidak pernah dilakukan orang tersebut. Fitnah (al-buht) termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Kata al-buht berasal dari kata ”bahata-yabhatu-bahtan-buhtaan”, yang bermakna ”bahhaat”, yakni orang yang mengatakan apa yang tidak dilakukan oleh seseorang”. [Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-’Arab, Juz 2, hal. 12].  Dalam bahasa Indonesia, kata al-buht diterjemahkan dengan arti fitnah.   Fitnah (al-buht) adalah menceritakan sesuatu yang ada pada diri seseorang kepada orang lain padahal sesuatu itu tidak pernah ada pada diri orang tersebut, atau tidak pernah dilakukan orang tersebut.   Dengan kata lain al-buht (fithnah) adalah melemparkan kedustaan (al-kadzb) kepada seseorang. Fitnah (al-buht) termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam.  Alasannya, fitnah tidak saja akan mencemari dan merusak kehormatan seseorang, lebih dari itu, fitnah juga akan menyulut terjadi perselisihan, pertengkaran, dan adu domba.  Sedangkan perselisihan, pertengkaran, dan adu domba adalah faktor-faktor yang bisa merusak kesatuan dan kerukunan. Continue reading Definisi dan Hukum Fitnah (Al-Buht)

Mencintai Nabi Muhammad SAW

Mencintai Rasulullah saw. hukumnya wajib atas setiap Muslim. Bahkan cinta seorang Muslim kepada Rasulullah saw. harus berada di atas cinta kepada yang lain, selain Allah SWT. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri dan keluarga kalian, juga kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya. Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik.” (TQS at-Taubah [9]: 24). Continue reading Mencintai Nabi Muhammad SAW

Ikhlash dalam Perbuatan

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٦٢) لَا شَرِيكَ لَهُ ۥ‌ۖ وَبِذَٲلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۟ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ (١٦٣

“Katakanlah, “Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.  Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.[TQS Al An’am (6):162-163]

Kandungan Isi Surat

  1. Perintah Allah swt kepada Nabi Mohammad saw agar beliau memberitahu orang-orang musyrik yang menyembah kepada selain Allah swt (thaghut) dan berkorban untuk berhala, bahwa beliau saw berbeda dengan mereka. Ibadah yang dikerjakan Nabi saw, mulai dari sholat, haji, berkorban, serta hidup dan mati beliau saw, ditujukan untuk Allah swt semata.
  2. Perintah kepada kaum Muslim agar beribadah kepada Allah swt dengan ikhlash, dan tidak menujukan setiap amal perbuatannya kepada selain Allah swt.

Continue reading Ikhlash dalam Perbuatan

Memahami Bala’, Musibah dan ‘Adzab

Bala’, Secara literal, al-bala’ bermakna al-ikhtibar (ujian).  Istilah bala’ sendiri digunakan untuk menggambarkan ujian yang baik maupun yang buruk. [Imam al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal. 65].  Dalam kitab al-Tibyaan fi Tafsiir Ghariib al-Quran dinyatakan, bahwa bala’ itu memiliki tiga bentuk; ni’mat (kenikmatan), ikhtibaar (cobaan atau ujian), dan makruuh (sesuatu yang dibenci).[Syihaab al-Diin Ahmad, al-Tibyaan fi Tafsiir Ghariib al-Quran, juz 1/85]    Di dalam al-Quran, kata bala’ disebutkan di enam tempat, dengan makna yang berbeda-beda; [2:49; 7:141; 8:17; 14:6; 37:106; 44:33].   Ada yang bermakna cobaan dan ujian yang dibenci manusia. Ada pula yang berarti kemenangan atau kenikmatan (bala’ hasanan). Continue reading Memahami Bala’, Musibah dan ‘Adzab

Refleksi Rasa Syukur

Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim.   Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke nerakanya Allah swt.  Allah swt telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya.   Allah swt berfirman, artinya:

فَٱذۡكُرُونِىٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡڪُرُواْ لِى وَلَا تَكۡفُرُونِ (١٥٢ )

           “Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.”[al-Baqarah:152] Continue reading Refleksi Rasa Syukur

Kasih Sayang dan Kelembutan Rasulullah SAW

Rasulullah saw bukanlah orang yang keji dan orang yang membiarkan kekejian.  Beliau tidak mengeluarkan suara keras-keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan.  Beliau suka memaafkan dan berjabatan tangan”.[HR. Imam Turmudziy]

Karakter yang harus selalu melekat kepada diri seorang pemimpin adalah lembut dan penyayang kepada orang-orang yang dipimpinnya.   Pasalnya, kelembutan dan kasih sayang seorang pemimpin akan menumbuhkan rasa hormat, kecintaan, dan ketenangan pada diri orang-orang yang dipimpinnya.   Jika seorang pemimpin telah dicintai oleh orang-orang yang dipimpinnya, niscaya ia akan mampu mengatasi seluruh problem yang mendera organisasinya.   Wajar saja, Allah swt menekankan masalah kepada Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin umat manusia.  Allah swt berfirman;

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”.[TQS Al-Syu’araa’ (26) :215].   Continue reading Kasih Sayang dan Kelembutan Rasulullah SAW

Mengokohkan Ukhuwah Islamiyah

Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka. Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka…Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik.” (Will Durant, 1926. The History of Civilization, vol. xiii, hlm. 151). Continue reading Mengokohkan Ukhuwah Islamiyah