TEMBUS BATAS RASIONALITAS: PELAJARAN TAK BIASA DARI KELUARGA IBRAHIM

Manusia memang harus menggunakan akalnya. Manusia memang harus berfikir secara logis. Manusia memang harus bertindak untuk merealisasi kemanfaatan. Semua itu memang benar adanya.

Namun, akal dan rasionalitas manusia tetap saja ada batasnya. Ada banyak fenomena yang terkadang melampaui batas-batas rasionalitas manusia, terutama yang berhubungan dengan Sang Maha Pencipta.

Iman kepadaNya harus dicapai melalui proses rasional, tidak cukup hanya dengan taklid buta. Setelah itu, dengan pondasi yang kokoh, iman harus siap dijadikan pijakan untuk menerima kenyataan-kenyataan yang tembus batas rasionalitas.

Pada seseorang yang sudah melampaui batas-batas rasionalitasnya, karena iman yang dibangun benar-benar diperoleh dari proses pencarian dan berdasar bukti-bukti tak terbantahkan, mereka benar-benar mampu menundukkan rasionalitasnya di bawah iman-nya dan ketundukannya yang sempurna kepada wujud tak terbatas, Allah swt.

Contoh paling mudah sosok manusia yang telah menembus batas rasionalitas dan taat secara bulat kepada Allah swt, yaitu Nabi Ibrahim, anaknya Nabi Ismail, dan istrinya Hajar.

*****
Saat Allah swt mengaruniai Nabi Ibrahim seorang putra, yaitu Nabi Ismail, Allah swt memerintahkan beliau agar membawa istri dan anaknya yang masih menyusu ke Makkah, yaitu daerah yang tandus dan tak ada air. Sungguh, perintah tersebut nyaris “tidak rasional” jika dilihat oleh manusia yang masih mengabdi akal. Bagaimana mungkin seorang ayah tega meninggalkan anak bayi dan istrinya di tempat yang gersang, tak ada air dan makanan?

Namun, ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah benar-benar bulat. Keimanannya benar-benar telah menembus batas-batas rasionalitas manusia.

Dikisahkan di dalam kitab Qishahsul Anbiya’ (Imam Ibnu Katsir), bahwa hanya dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air, Nabi Ibrahim meninggalkan keduanya di Makkah yang tandus. Hajar lalu mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?”

Hajar mengulang pertanyaannya beberapa kali. Saat dilihatnya Ibrahim hanya diam, segera ia tersadar, lalu beliau bertanya dan sekaligus memberikan jawaban sendiri. “Apakah Allah swt yang menyuruhmu berbuat demikian?” tanyanya dengan kecerdasan luar biasa. “Benar,” jawab singkat Ibrahim dengan menahan gejolak jiwa yang tiada tara. “Jika demikian, maka Allah tak akan menelantarkan kami,” jawab Hajar.

Sungguh dialog yang nyaris tidak mungkin ditemukan lagi pada zaman sekarang. Keyakinannya kepada Allah sungguh telah melewati batas-batas rasionalitas manusia padaumumnya. Jika memang itu perintah Allah, maka mereka yakin seyakin-yakinya bahwa Allah tak akan menelantarkannya. Allah pasti akan menolongnya. Allah pasti sudah memeliki rencana indah, meski belum bisa dijelaskan dengan rasional pada saat itu. Nabi Ibrahim yang begitu penyayang itu tentu sedih, bahkan sangat-sangat sangat sedih. Namun, beliau yakin Allah menginginkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Dan sebagai orang yang yakin dengan kekausaan Allah, dia menundukkan semuanya di hadapan Allah swt.

Sementara itu, Hajar dengan sangat yakin pertolongan Allah, menyusui Ismail kecil dan minum dari tempat perbekalannya yang tak seberapa. Setelah air itu habis, ia kehausan. Demikian pula anaknya. Hajar memperhatikan anaknya yang berguling-guling kehausan. Ia tak tega. Dengan penuh cinta, ia berikhtiyar sesuai kemampuan yang mampu ia usahakan. Ia beranjak pergi mendaki Bukit Shafa dan Marwah untuk menemukan air. Dia tidak putus asa. Terus-menerus ia mondar-mandir seperti itu sebanyak tujuh kali. Mengapa tujuh kali? Wallahu a’lam. Barangkali, itu adalah batas maksimal yang mampu diusahakan oleh Hajar pada saat itu. Ikhtiyar diusahakan dengan maksimal, sampai akhirnya datanglah pertolongan Allah lewat jalan yang tidak terduga. Solusi datang justru bukan dari ikhtiyarnya. Tiba-tiba air keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang menangis karena kehausan. Jadi, menjadi jelas bagi orang beriman, bahwa ikhitiyar itu harus dilaksanakan secara maksimal, dan Allah sajalah yang memberi solusi dengan caranya Allah sendiri: Bisa melalui jalan ikhtiyar tersebut atau jalan lain yang tidak pernah dipikirkan oleh manusia.

Beliau minum lalu menyusui anaknya. Dengan limpahan karunia berupa air yang diberikan Allah kepadanya. Peristiwa berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah diabadikan Allah sebagai salah satu rukun haji sebagai pelajaran tak terhingga bagi orang yang di hatinya bersemanyam iman kepada Allah swt.

Ketaatan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Hajar, bukan hanya pada saat tertentu saja. Tetapi setiap saat. Ketaatan mereka bukan hanya saat enak saja, tetapi ketaatan kepada perintah Allah juga dilakukan pada saat yang sangat tidak enak, bahkan nyawa pun mereka korbankan dalam rangka taat dan tunduk kepada Allah swt.

Saat Nabi Ismail sudah mulai bisa berusaha (as sa’yu), Allah swt memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail. Sebuah perintah yang hampir-hampir tidak bisa dinalar dengan logika manusia. Tetapi, lagi-lagi, bagi Nabi Ibrahim dan Ismail, menunjukkan bahwa keimanan kepada Allah benar-benar melewati batas-batas rasionalitas.

Peristiwa ini digambarkan Allah swt dengan luar biasa pada surat Ash-Shaaffaat:
Maka Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (Ismail). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berjalan bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111)

Kisah-kisah di atas hanya sekelumit dari kisah ketaatan dan ketundukan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Hajar kepada Allah swt. Mereka adalah sosok-sosok manusia yang telah menembus batas rasionalitas manusia.

****
Ketaatan kepada Allah sang pencipta kehidupan memang bukan urusan akal, meski kita memang harus menggunakan akal kita sehingga kita benar-benar yakin kepada keberadaan dan kekuasan-Nya. Namun setelah itu, yang bekerja adalah fenomena lain: ketundukan dan ketaatan.

Sama dengan Einstein, ia menggunakan akalnya saat menurunkan persamaan-persamaan matematis super kompleks. Namun setelah itu, ia harus tunduk dengan konsekuensi persamaan matematis itu, meski prediksinya tak masuk akal. Bagaimana bisa dikatakan masuk akal jika waktu jadi relatif, bahkan dalam kerangka acuan tertentu, kita bisa hidup abadi di dalamnya? Bagaimana bisa, massa benda berubah jadi energi? Bagaimana bisa alam 3D melengkung jadi 4D oleh distorsi massa? Dan lain sebagainya.

Ketaatan kepada syariah Allah, bukan masalah masuk akal atau tidak. Ketaatan hanyalah buah dari konsekuensi logis keimanan yang bulat dan proses pencarian, bukan sekedar iman warisan. Jika ketaatan kepada Allah masih berfikir manfaat, masih befikir untung-rugi, masih berfikir sesuai zaman atau tidak, masih berfikir sesuai dengan nasionalisme atau tidak, masih berfikir sesuai nenek moyang atau tidak, berarti memang ada yang belum selesai dengan iman dan proses berfikir kita. Kita bukan hanya telah tembus rasionalitas, bahkan mungkin masih terkungkung olehnya.

Orang yang sudah berada pada level ini, akan berpikir dengan kaidah: “dimana ada syariah, di situlah ada manfaat”, bukan sebaliknya “di mana ada manfaat, di situlah ada syariah”. Jadi, Allah diposisikan lebih tinggi dibanding akalnya, bukan Allah yang dipaksa tunduk mengikuti akalnya.

Manusia yang sudah tembus batas rasionalitas, mereka akan jadi pribadi yang luar biasa. Sebab, mereka bisa melihat dan merasakan apa saja yang tidak mampu dilihat oleh mata atau dirasakan oleh indra. They can see beyond the eyes can see….

Kakinya melangkah di bumi, tetapi matanya menatap kehidupan akhirat…

Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Choirul Anam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s