Hukum Sholat Tahajjud setelah Tarawih dan Witir

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawie

Jika seseorang di bulan Ramadhan sudah melaksanakan shalat tarawih dan mengakhiri shalat tarawih tersebut dengan shalat witir, hukumnya boleh baginya melaksanakan sholat tahajjud pada malam yang sama. (Imam Shan’ani, Subulus Salam, 2/14).

Dalilnya adalah hadits shahih dalam Shahih Muslim pada Bab Shalatul Lail dari jalur riwayat Abu Salamah dari ‘A`isyah RA. Abu Salamah bertanya kepada ‘A`isyah RA mengenai shalat Rasulullah SAW, maka ‘A`isyah berkata :

كَانَ يُصَلِّي ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ يُوتِرُ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ

”Rasulullah SAW shalat tigabelas rakaat, yaitu Rasulullah shalat delapan rakaat kemudian beliau shalat witir (tsumma yuutiru), kemudian beliau shalat dua rakaat dalam keadaan duduk (tsumma yushalli rak’ataini wa huwa jaalisun), maka jika beliau hendak ruku’ beliau berdiri dan ruku’, kemudian beliau shalat dua rakaat antara adzan dan iqamah dari shalat Shubuh.” (HR Muslim, no 126 & 736).

Imam Nawawi memberi syarah (penjelasan) hadits di atas dengan berkata :
الصواب أن هاتين الركعتين فعلهما صلى الله عليه وسلم بعد الوتر جالسا لبيان جواز الصلاة بعد الوتر، وبيان جواز النفل جالسا
”Pendapat yang benar, sesungguhnya dua rakaat ini dilakukan oleh Rasulullah SAW setelah shalat witir dalam keadaan duduk, untuk menjelaskan bolehnya shalat [sunnah] setelah witir (jawaz an nafli ba’da al witr) dan bolehnya shalat sunnah sambil duduk (jawaz an nafli jaalisan).” (Imam Nawawi, Syarah An Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, 6/21; Imam Shan’ani, Subulus Salam, 2/14; Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 513, syarah hadits no 926).

Imam Syaukani menambahkan dalil lain yang semakna dengan hadits ‘A`isyah RA, yaitu hadits dari Ummu Salamah RA, bahwa Nabi SAW ruku’ dengan dua raka’at setelah witir (kaana raka’a rak’atain ba’da al witri). (HR Tirmidzi, no 471; Ahmad, 6/299; Ibnu Majah no 1195). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 518-519).

Berdasarkan hadits ‘A`isyah dan Ummu Salamah tersebut, boleh hukumnya melaksanakan shalat tahajjud setelah shalat tarawih dan shalat witir. Inilah pendapat yang kami anggap rajih (kuat) dalam masalah ini.

Kemudian, jika seseorang melakukan tahajjud setelah witir tersebut, apakah dia shalat witir lagi ataukah tidak? Di sini para ulama juga berbeda pendapat menjadi dua pendapat;

Pertama, orang tersebut tidak boleh membatalkan witirnya, yakni dia shalat sunnah secara genap-genap (syafa’) hingga Shubuh tanpa shalat witir lagi. Ini pendapat para imam seperti Imam Malik dan Imam Ahmad, berdalil dengan hadits dari Thalq bin Ali RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

لا وتران في ليلة

”Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (laa witraani fi lailatin) (HR Ahmad, dinilai shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinilai hasan oleh Tirmidzi). (Subulus Salam, 2/14; Nailul Authar, hlm. 518, no 934).

Kedua, orang tersebut boleh membatalkan witirnya, dengan cara menambahkan satu rakaat lagi atas witir sebelumnya sehingga jumlah raka’atnya menjadi genap, kemudian dia shalat sunnah (tahajjud), kemudian dia shalat witir. Ini juga pendapat para imam seperti Imam Auza’i, Imam Syafi’i, dan Imam Abu Tsaur, berdalil dengan hadits Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda :

اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

”Jadikanlah akhir dari shalat-shalat malammu shalat witir.” (ij’aluu aakhira shalaatikum bil laili witran). (HR Jama’ah kecuali Ibnu Majah). (Nailul Authar, hlm. 518, no 935).

Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat kedua, yakni yang membolehkan membatalkan witir. Alasannya, pendapat pertama berarti hanya mengamalkan satu hadits, yaitu hadits Thalq bin Ali yang melarang dua witir dalam satu malam, dengan cara tak membatalkan witir sebelumnya kemudian shalat tahajjud tanpa ditutup witir. Jadi hadits Ibnu Umar bahwa witir penutup shalat malam, tidak diamalkan. Sedang pendapat kedua, mengamalkan dua hadits sekaligus, yaitu hadits Thalq bin Ali diamalkan dengan menambahkan satu rakaat untuk membatalkan witir sebelumnya, dan hadits Ibnu Umar diamalkan dengan melaksanakan shalat witir sebagai penutup shalat malam.

Jadi, pendapat kedua lebih kuat, sesuai kaidah ushuliyyah yang berbunyi :

إعمال الدليلين أولى من إهمال أحدهما بالكلية

I’maalu ad dalilaini aula min ihmaali ahadimaa bil kulliyyah. (Mengamalkan dua dalil lebih utama daripada mengabaikan salah satu dalil secara keseluruhan). (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, 1/240). Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s