Mengenal Ulil Amri

Siapakah Ulil Amriy?

           Para ‘ulama tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan kata ulil amriy.  Sebagian ‘ulama menafsirkan ulil amriy dengan penguasa.  ‘Ulama yang lain menafsirkan ulil amriy dengan ‘ulama.  Ada pula yang menafsirkan ulil amriy dengan penguasa dan ‘ulama.   Ada juga yang berpendapat bahwa, yang dimaksud dengan ulil amriy adalah shahabat Rasulullah.  Ada pula yang berpendapat khusus untuk Abu Bakar dan ‘Umar ra.

Menurut Imam Thabariy, sebagian ‘ulama tafsir menafsirkan kata “ulil amriy” dengan “al-umaraa’” (penguasa).[1]  Mufassir yang memegang pendapat ini adalah, al-A’masy, Abu Shalih, Abu Hurairah, dan lain-lain.  

Imam Thabariy   menuturkan sebuah riwayat dari Abu al-Saaib Salam bin Janaadah, dari Abu Mu’awiyyah dari al-A’masy dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Abu Hurairah tatkala menafsirkan firman Allah, “taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan ulil amriy minkum”, menyatakan bahwa ulil amriy di sini adalah para penguasa.[2]

Hasan al-Bazaar meriwayatkan sebuah riwayat dari Hujjaj bin Mohammad, dari Ibnu Juraij, dari Yala bin Muslim, dari Saiid bin Jabiir, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa yang dimaksud dengan ulil amriy dalam ayat tersebut adalah seorang laki-laki yang diangkat oleh Rasulullah saw menjadi pemimpin di sebuah ekspedisi perang.[3]

Al-Qasim menuturkan sebuah riwayat dari al-Husain dari Hujjaj dari Ibnu Juraij dari ‘Ubaidillah bin Muslim bin Hurmuz dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu ‘Abbas, yang menyatakan bahwa ulil amriy dalam ayat tersebut adalah ‘Abdullah bin Hudzafah bin Qais al-Sahmiy yang diutus oleh Rasulullah saw untuk memimpin sebuah ekspedisi perang (saraya).[4]

Ibnu Hamid meriwayatkan sebuah riwayat dari Hukaam dari Anbasah, dari Laits, dari Maslamah Maimun bin Mahran, yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ulil amriy dalam surat al-Nisaa’:59 adalah para pemimpin ekspedisi perang di masa Rasulullah saw.[5]

Menurut Ibnu Zaid, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Wahhab, ulil amriy adalah para sulthan (penguasa).[6]

Maimun bin Mahran, Muqatil dan Al-Kalabiy menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah pemimpin ekspedisi perang (ashhaab al-saraya)”. [7]

Para ‘ulama lain menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy”  adalah para ‘ulama.

Sofyan bin Wakii’ meriwayatkan sebuah riwayat dari bapaknya, dari ‘Ali bin Shalih dari ‘Abdullah bin Mohammad bin ‘Aqiil, dari Jabir bin ‘Abdullah, dari Jabir bin Nuh dari al-A’masy dari Mujahid, bahwasanya ia menyatakan bahwa yang dimaksud ulil amriy adalah ahli fiqh.[8]

Abu Kuraib mengetengahkan sebuah riwayat dari Ibnu Idris dari Laits, dari Mujahid, bahwasanya ia menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ulil amriy adalah ahli fiqh dan ‘ilmu.[9]

Mohammad ‘Umar menuturkan, bahwasanya Ibnu Abi Najiih menafsirkan “ulil amriy” dengan ahli fiqh dalam masalah agama dan akal[10].

Mutsannay berpendapat, sebagaimana penuturan Abu Hudzaifah, dari Syibil dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah ahli fiqh.[11]

Ahmad bin Hazim mengisahkan sebuah riwayat dari Abu Nu’aim, dari Sofyan, dari Hushain, dari Mujahid, bahwasanya yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah ahli al-‘ilmu (ahli ilmu).[12]

Ya’qub bin Ibrahim juga berpendapat, sebagaimana penuturan dari Hasyiim, dari ‘Abdul Malik, dari ‘Atha’ bin al-Saaib,bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah ahli ilmu dan fiqh.[13]

Mutsannay juga mengetengahkan sebuah riwayat dari ‘Amru bin ‘Aun, dari Hasyim, dari ‘Abdul Malik, dari ‘Atha’, yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah fuqaha’ (para ahli fiqh) dan ‘ulama.[14]

Al-Hasan bin Yahya menuturkan sebuah riwayat, dari ‘Abdur Razaq, dari Ma’mar dari al-Hasan, bahwasanya ia menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah para ulama.[15]

‘Abdul Razaq meriwayatkan sebuah riwayat dari al-Tsauriy, dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid, yang menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah ahli fiqh dan ilmu.[16]

Al-Mutsannay mengisahkan sebuah riwayat dari Ishaq, dari Ibnu Abi Ja’far, dari bapaknya, dari Rabi’, dari Abu al-‘Aliyah, bahwasanya, ia menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah ahli ilmu.[17]

Masih menurut Imam Thabariy, sebagian ‘ulama menafsirkan “ulil amriy” dengan shahabat Rasulullah saw.   Riwayat-riwayat yang menunjukkan hal ini adalah sebagai berikut.

Ya’qub bin Ibrahim meriwayatkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Aliyyah, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, bahwasanya yang dimaksud “ulil amriy” adalah shahabat Nabi saw.[18]

 Sedangkan Ahmad bin ‘Amru menyatakan, sebagaimana penuturan dari Hafsh bin ‘Amr al-‘Adaniy, dari al-Hakam bin al-‘Aban, dari ‘Ikrimah, bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah Abu Bakar dan ‘Umar.[19]

Menurut Imam Thabariy, pendapat yang paling rajih tentang pengertian “ulil amriy” adalah al-umaraa’ (penguasa) dan al-wulaah (para wali).   Pendapat ini lebih tepat dan rajih, karena berkesesuaian dengan sabda-sabda Rasulullah yang memerintahkan kaum muslim untuk mentaati penguasa dan para wali.[20]

Beberapa riwayat telah menguatkan pendapat ini.   Abu Hurairah menuturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

 “Setelah aku nanti, akan kalian jumpai para wali yang berbuat baik, dan para wali yang berbuat fajir (dosa).   Dengarkanlah dan taatilah mereka dalam semua perkara yang sejalan dengan kebenaran. Sholatlah di belakang mereka.  Jika mereka berbuat baik, maka kebaikan itu untuk kalian dan mereka.  Jika mereka berbuat buruk, maka keburukan itu untuk kalian, dan tanggungannya atas mereka.[21]

Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا 

Akan datang  para amir, lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemungkaran- nya, maka siapa saja yang membencinya akan bebas, dan siapa  saja yang mengingkarinya dia akan selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka)”. Mereka bertanya, “Tidaklah kita akan memerangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat” Jawab Rasul.

           Dalam riwayat lain dituturkan; “Barangsiapa membencinya, maka dia akan bebas. Dan barangsiapa mengingkarinya, maka dia akan selamat. Akan tetapi, barangsiapa ridha dan mengikutinya (dia akan celaka“. Riwayat ini menjelaskan riwayat sebelumnya, “Barangsiapa yang membencinya, maka dia akan bebas“.

Penafsir lain, Imam Qurthubiy, juga mengetengahkan beberapa pendapat ‘ulama tentang “ulil amriy”.

Jabir bin ‘Abdillah dan Muhajid berkata, “Ulil Amriy adalah Ahlul Quran dan Ahlul ‘Ilm; yakni para fuqaha dan ‘ulama. Pendapat ini dipilih oleh Imam Malik dan pengikutnya.  Pendapat senada juga diketengahkan oleh al-Dlahak.  Ia menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan ulil amriy adalah para fuqaha dan ‘ulama yang memahami  masalah agama.”

Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa yang dimaksud dengan ulil amriy hanyalah khusus untuk shahabat Rasulullah saw.  Dituturkan dari ‘Ikrimah, bahwasanya yang dimaksud ulil amriy adalah Abu Bakar dan ‘Umar saja.

‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan ‘ulil amriy” adalah ahli fiqh dan ahli dalam masalah agama.  Pendapat ini juga dipegang oleh Mujahid, ‘Atha’, dan al-Hasan al-Bashriy.[22]

Abu ‘Aliyah berpendapat, “Dhahirnya, hanya Allah swt yang tahu, bahwa yang dimaksud dengan ‘ulil amri minkum” adalah para penguasa dan para ‘ulama.”[23]

Sufyan bin ‘Uyainah mengisahkan sebuah riwayat dari al-Hakam bin Aban, bahwasanya ia bertanya kepada ‘Ikrimah tentang ‘ummahaat al-aulaad” (ibu anak-anak)”, ‘Ikrimah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mengenakan sutera.”  Saya bertanya, “Dengan apa?  Ia menjawab, “Dengan al-Quran.”  Saya bertanya, “Dengan ayat al-Quran yang mana?   Ia menjawab, “Allah swt berfirman, “Taatilah Allah dan taatilah rasulullah, dan pemimpin diantara kalian”, dan ‘Umar adalah “pemimpin  yang utama.”

Ibnu Kiisan berkata,”Yang dimaksud dengan ulil amriy adalah orang yang berakal (ulul ‘aql) yang mengatur urusan manusia.”

Menurut Imam Qurthubiy, pendapat yang benar adalah pendapat pertama dan kedua (penguasa dan ulama).  Maksudnya, beliau berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah para penguasa dan ‘ulama.  Sebab, penguasa (pemimpin negara) adalah induk dari kepemimpinan dan hukum.  Diriwayatkan dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya ia berkata,”Firman Allah swt [al-Nisaa’:59] diturunkan berkenaan dengan peristiwa Abdullah bin Hudafah bin Qais bin ‘Adiy al-Sahmiy, tatkala ia diutus oleh Rasulullah saw dalam sebuah ekspedisi peperangan (saraya).

Abu ‘Umar berkata, “Abdullah bin Hudzafah adalah seorang laki-laki yang terkenal suka berkelakar.   Salah satu kelakarnya adalah tatkala Rasulullah saw mengangkatnya menjadi pemimpin sebuah ekspedisi perang, ia memerintahkan pasukannya untuk mengumpulkan kayu bakar, dan menyuruh mereka untuk membuat api unggun.  Tatkala api telah menyala, ia memerintahkan pasukannya untuk mencebur ke dalamnya.  Ia berkata,”Bukankah Rasulullah saw telah memerintahkan kalian untuk mentaatiku? Bukankah Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mentaati amirku, maka ia telah mentaatiku.”  Mereka menjawab, “Tidaklah kami beriman kepada Allah swt dan mentaati Rasulullah, kecuali agar kami selamat dari api!  Rasulullah saw membenarkan tindakan mereka, dan bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiyat kepada Allah.”  Allah swt berfirman, “Janganlah kami membunuh dirimu sendiri.” [al-Nisaa’:29].  Hadits ini sanadnya shahih dan masyhur.

Adapun pendapat kedua, yakni ’ulama.  Pendapat ini didukung oleh firman Allah swt, “Jika terjadi sengketa diantara kalian, maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya.”  Pada ayat ini, Allah swt memerintahkan agar perselisihan dikembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw.  Padahal, hanya ‘ulama’lah yang tahu cara kembali kepada Kitabullah dan sunnah.  Ini menunjukkan bahwa bertanya kepada ‘ulama hukumnya adalah wajib, dan mengikuti fatwanya adalah sebuah keharusan.  Sahal bin ‘Abdullah berkata, “Manusia tetap berada dalam kebaikan selama mereka masih memulyakan pemimpin dan ulama.  Jika mereka memulyakan keduanya, Allah akan memperbagus kehidupan dunia dan akherat mereka. Jika mereka menyepelekan keduanya, rusaklah dunia dan akherat mereka”.

Pendapat semacam ini juga dipilih oleh Imam Nasafiy dan Imam Ibnu Katsir[24]

Imam Syaukani, dalam kitab tafsirnya, Fath al-Qadir, berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan “ulil amriy” adalah para penguasa (imam), para sulthan (penguasa), dan juga para qadliy.[25]

Oleh: Ustadz Syamsuddin Ramadhan

[1] Imam Thabari, Tafsir Thabariy, juz 5, hal. 147

[2] ibid, juz 5, hal. 147. Bandingkan pula dengan al-Hafidz al-Suyuthi, Durr al-Mantsur, surat al-Nisaa’:59

[3]  ibid, juz 5. hal. 147

[4]  ibid. juz 5, hal. 147

[5] ibid, juz 5, hal. 147

[6] ibid, juz 5, hal. 148

[7]  Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, surat al-Nisaa’:59

[8]  op cit, juz 5, hal. 148

[9] ibid, juz 5, hal. 149

[10] ibid, juz 5, hal. 149

[11] ibid, juz 5, hal. 149

[12] ibid. juz 5, hal. 149

[13] ibid, juz 5, hal. 149

[14] ibid, juz 5, hal. 149

[15] ibid, juz 5, hal. 149

[16] ibid, juz 5, hal. 149

[17] ibid, juz 5, hal. 149

[18] ibid, juz 5, hal. 149

[19] ibid, juz 5, hal. 149

[20] ibid, juz 5, hal. 150

[21]  Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, juz 5, hal.150

[22] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, surat al-Nisaa’:59

[23]  ibid, surat al-Nisaa’:59

[24] Lihat Imam Nasafiy, Tafsir al-Nasafiy, dan Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir

[25]  Imam Syaukani, Fath al-Qadir, surat al-Nisaa’:59

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s