Zakat Tanaman dan Buah-Buahan

            Zakat pertanian dan buah-buahan diwajibkan berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah.  Dalil al-Qur’an adalah firman Allah swt:

]وَءَاتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ[

“Dan tunaikanlah haknya (zakatnya) pada hari memetik hasilnya (panen). (TQS. al-An’am [6]: 141)

Adapun dalil as-Sunnah adalah sabda Nabi saw, “Tidak ada zakat di dalam jumlah kurang dari 5 wasaq”. (HR. Mutafaq Alaihi)

Dari Ibnu Umar dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda, “Apa-apa yang disirami oleh hujan dan mata air maka zakatnya sepersepuluh, dan yang disirami dengan tenaga manusia maka zakatnya seperdua puluh. (HR. Bukhari)

Jenis Tanaman dan Buah-buahan yang Wajib Zakat

            Zakat diwajibkan pada gandum (al-qomhu), jewawut (asy-sya’ir), kurma (at-tamru) dan kismis (az-zabib). Diriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari dari bapaknya, dari Abdullah bin Amru yang berkata, “ Rasulullah saw membuat daftar zakat hanya terhadap jewawut, gandum, kurma dan kismis”.

Dari Musa bin Thalhah dituturkan, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw telah memerintahkan Mu’adz bin Jabal pada saat dia diutus ke Yaman, (yaitu) agar dia mengambil zakat dari jewawut, gandum, kurma dan anggur”.

Hadits-hadits ini menjelaskan bahwa zakat pada tanaman dan buah-buahan hanya diambil dari empat jenis saja yaitu: jewawut, gandum, kurma dan kismis. Selain dari jenis tanaman serta buah-buahan tersebut tidak diambil zakatnya. Pasalnya, hadits yang pertama menggunakan kata innama yang menunjukkan ta’kiid (pembatasan). Pembatasan atas wajibnya zakat hanya pada empat jenis tanaman dan buah-buahan dikuatkan oleh hadits yang dikeluarkan al-Hakim, al-Baihaqi dan Thabrani dari Abu Musa dan Mu’adz pada saat Nabi saw mengutus keduanya ke Yaman untuk mengajarkan kepada masyarakat urusan-urusan agama Islam. Di dalam hadits itu dituturkan, “Janganlah kalian berdua mengambil zakat kecuali dari empat macam, (yaitu) gandum, jewawut, kismis dan kurma

Baihaqi memberikan komentar tentang hadits ini bahwa perawinya terpercaya (tsiqah) dan sanadnya sampai kepada Rasulullah saw (muttashil). Hadits ini menjelaskan adanya pembatasan pengambilan zakat pada tanaman dan buah-buahan hanya empat jenis saja.  Sebab, lafadz –illa– apabila diawali dengan nafiy atau nahyi menunjukkan makna pembatasan terhadap segala sesuatu yang disebut sebelumnya, atas segala sesuatu yang disebut sesudahnya.  Walhasil, hadits ini merupakan pembatasan pengambilan zakat hanya pada empat jenis yang disebutkan sesudahnya, yaitu: gandum, jewawut, kismis, kurma.

            Alasan lainnya adalah karena kata-kata jewawut, gandum, kurma dan kismis yang terdapat di dalam hadits-hadits di atas, merupakan isim jamid, sehingga lafadz-lafadznya tidak mengandung arti yang lain, baik secara manthuq, mafhum, maupun iltizam. Pasalnya, isim semacam ini tidak termasuk isim-isim sifat, bukan juga isim-isim ma’ani, tetapi dibatasi dengan jenis-jenis yang disebut dengan isim tersebut, dan mutlak hanya pada jenis-jenis itu saja. Oleh karena itu tidak bisa diambil dari lafadz-lafadznya itu makna-makna al-aqtiyatu, al-yabsu atau al-idkharu. Sebab, lafadz-lafadznya tidak menunjukkan kepada makna-makna dan sifat-sifat ini. Sehingga hadits-hadits diatas, yang membatasi wajibnya zakat hanya pada empat jenis tanaman dan buah-buahan, merupakan pengkhusus (mukhashash) untuk lafadz umum yang ada pada hadits, “Pada tanaman yang disirami hujan zakatnya sepersepuluh, dan pada tanaman yang di sirami dengan tenaga manusia atau irigasi zakatnya seperduapuluh”.

Dengan demikian, seluruh tanaman yang disirami oleh air hujan, yakni jewawut, gandum, kurma dan kismis, zakatnya adalah sepersepuluh. Apabila disirami oleh tenaga manusia atau irigasi maka zakatnya adalah seperduapuluh.

            Zakat tanaman dan buah-buahan tidak diwajibkan pada selain empat jenis tadi, sehingga zakat tidak diambil dari biji sawi, beras, kacang, kacang kedelai, kacang ‘adas dan yang lain-lainnya dari biji-bijian.

Zakat juga tidak diambil dari buah apel, pir, persik (peach), aprikot, delima, jeruk, pisang dan lain-lain dari jenis buah-buahan. Sebab, biji-bijian dan buah-buahan tersebut tidak termasuk dalam lafadz jewawut, gandum, kurma, dan kismis. Tidak ada satu nash shahih pun yang menjelaskan jenis-jenis tanaman dan buah-buahan lain yang wajib dikenai zakat. Juga tidak ada ijma’ sahabat dalam hal ini. Selain itu, masalah ini tidak bisa diqiyaskan, sebab, zakat merupakan ibadah. Bahkan, tidak ada qiyas dalam ibadah, sehingga hanya dibatasi dengan apa-apa yang disebut oleh nash.

Zakat tidak diambil dari sayur-sayuran seperti waluh, mentimun, labu/calabash, terong, lobak, wortel, dan lain-lain. Telah disampaikan dari Umar, Ali, Mujahid dan lainnya bahwa sayur-sayuran tidak dipungut zakatnya. Hal itu diriwayatkan oleh Abu Ubaid, Baihaki dan lainnya.

Nishab Zakat Tanaman dan Buah-buahan

Nishab terendah zakat tanaman dan buah-buahan yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah 5 wasaq. Apabila jewawut, gandum, kurma atau kismis belum mencapai 5 wasaq maka tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abi Sa’id al-Khudriy yang berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada zakat dalam jumlah yang kurang dari lima wasaq”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Muhammad bin Abdurrahman juga menuturkan sebuah hadits, mengenai surat Rasulullah saw dan surat Umar tentang zakat; di dalamnya tertulis, “Dan janganlah diambil apapun (berupa zakat) sehingga mencapai lima wasaq.

Dari Jabir juga diriwayatkan, bahwasanya, “Tidak diwajibkan zakat kecuali (sudah) mencapai lima wasaq. (HR. Muslim)

Satu wasaq sama dengan 60 sha’. Abu Said dan Jabir meriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda, “Satu wasaq sama dengan 60 sha'”.

Satu sha’ sama dengan empat mud, dan satu mud sama dengan satu sepertiga rithl Baghdad. Satu sha’ sama dengan 2,176 kg, dan satu wasaq sama dengan 130,56 kg jewawut. Oleh karena itu, ukuran lima wasaq untuk biji-bijian (nishab zakat tanaman dan buah-buahan) sama dengan 652 kg. Hal ini berbeda dengan timbangan untuk gandum, kurma dan kismis, karena ketiga jenis tanaman ini timbangannya tidak sama, tetapi menggunakan ukuran yang satu. Nishab yang dipakai untuk mengukur zakat adalah dengan takaran (kaiyl), bukan dengan timbangan (wazan), seperti yang ditetapkan dalam berbagai hadits.

Waktu Tercapainya Zakat Biji-bijian dan Buah-buahan

            Jika tanaman biji-bijian telah mencapai lima wasaq, zakat dari biji-bijian diambil setelah dipanen dan dibersihkan. Sedangkan buah-buahan zakatnya diambil setelah dikeringkan, kurma menjadi ruthab, anggur menjadi kismis. Tidak disyaratkan adanya haul, tetapi zakatnya dikeluarkan setelah dipanen, dibersihkan, dan dikeringkan.  Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah Swt:

]وَءَاتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ[

Dan keluarkanlah zakatnya pada hari dipetik hasilnya. (TQS. al-An’am [6]: 141)

Selain itu, Sunnah juga menunjukkan bahwa pengambilan zakat dilakukan setelah keringnya ruthab dan anggur; yakni setelah berubah menjadi korma kering dan kismis, dan setelah biji-bijian dipanen dan dibersihkan.

Penghitungan Buah-buahan

Negara wajib menyediakan penaksir yang ahli menaksir hasil panen buah-buahan; seperti kurma dan anggur. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari ‘Atab bin Usaid yang berkata, “Bahwa Nabi saw telah mengutus kepada masyarakat orang yang akan menaksir (hasil) tanaman-tanaman dan buah-buahan mereka”. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Sedangkan redaksi dari ‘Atab berbunyi, “Rasulullah saw memerintahkannya untuk menaksir (hasil panen) anggur dan kurma, dan mengambil zakatnya (berupa) kismis, seperti halnya mengambil zakat kurma (berupa) kurma kering. Hal ini telah dilakukan Nabi saw, yaitu beliau menaksir (hasil panen) kebun seorang wanita di (daerah) Wadi al-Qurra”. (HR. Imam Ahmad di dalam musnadnya)

Ketentuan semacam ini dilakukan pula oleh Abubakar dan para Khalifah sesudahnya.

Orang yang menaksir zakat hendaknya menyisakan dalam taksirannya sepertiga atau ¼ bagian yang tidak perlu masuk taksirannya, untuk melonggarkan si pemilik. Sebab mereka memerlukannya untuk makan, untuk memberi makan tamu-tamu mereka, tetangga-tetangga mereka, keluarga mereka, sahabat-sahabat mereka, orang-orang yang lewat, orang yang minta-minta, dan bagi burung-burung yang hinggap. Dari Sahal bin Abi Hatsmah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila kalian menaksir maka ambillah dan sisakan sepertiga bagian, apabila tidak sepertiga maka sisakan ¼ bagian”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai)

Dari Makhul dituturkan, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw apabila mengutus para penaksir (buah-buahan dan tanaman) maka beliau bersabda, ” ‘Ringankanlah taksiran kalian atas manusia, karena sesungguhnya di dalam harta itu ada al-‘ariyah (buah yang diberikan kepada yang memmerlukan-peny), al-wathiyah (buah yang menjadi hak orang yang lewat-peny), dan al-akilah (pemilik, keluarga dan orang yang ditanggungnya”.

Untuk jewawut dan gandum tidak dilakukan penaksiran, karena tidak ada contoh dari Rasulullah saw. Selain itu penaksiran untuk kedua jenis tanaman ini sulit dilakukan, berbeda dengan penaksiran pada kurma dan anggur. Karena buah kurma dan anggur bisa dimakan pada saat matang, sehingga ada kesempatan bagi pemilik buah-buahan tersebut untuk mempertimbangkan apakah buah-buahan itu untuk dimakan, atau dihadiahkan, atau untuk dijual, dan sebagainya. Kemudian dia mengeluarkan zakat atas apa yang sudah ditaksir. Kurma kering (tamar) dan anggur ditaksir seluruhnya secara terpisah sesuai tingkatannya, yang baik dengan yang baik, yang jelek dengan yang jelek. Digabungkan yang sejenis dengan jenis lainnya. Dan tidak boleh digabungkan antara kurma dengan kismis, juga antara jewawut dengan gandum.

            Apabila buah-buahan yang telah ditaksir zakatnya rusak atau belum dikeringkan atau berubah taksirannya tanpa bisa diperkirakan lagi, atau dicuri sebelum dikeringkan maupun sesudahnya; jika terjadi hal-hal tersebut tidak ada tanggungan penggantian atas si pemilik. Dengan demikian, si pemilik tadi tidak diwajibkan zakat, kecuali masih ada yang tersisa dan itupun apabila mencapai nishab.

Ukuran Zakat yang Diambil dari Tanaman dan Buah-buahan

            Apabila jewawut, gandum, kurma dan kismis telah mencapai lima wasaq, zakatnya dikeluarkan sepersepuluh apabila disirami dengan air hujan, atau sungai, atau tanaman yang tidak disirami seperti pohon yang ditanam di tanah yang berdekatan dengan mata air atau dekat dengan sungai, atau pohon tersebut mendapatkan air dengan sendirinya tanpa disiram. Untuk tanaman yang disiram dengan tenaga manusia, zakatnya sebesar seperduapuluh, seperti disiram dengan alat penyiram atau irigasi/kincir. Dari Ali berkata, “Apa yang disirami air hujan zakatnya sepersepuluh, dan yang disirami dengan kincir atau alat penyiram zakatnya seperduapuluh.

Dari Bisir bin Sa’id berkata, “Rasulullah saw mewajibkan zakat sepersepuluh (pada tanaman) yang disirami dengan air hujan, tadah hujan atau mata air. Dan seperduapuluh yang disirami menggunakan binatang.

Dari Hakam bin Uyainah berkata, “Rasulullah saw mengirim surat kepada Mu’adz bin Jabal yang berada di Yaman, ‘Sesungguhnya (tanaman dan buah-buahan) yang disirami dengan air hujan atau (tanahnya) bersemak zakatnya adalah sepersepuluh, dan yang disirami dengan timba (pikulan) zakatnya seperduapuluh’.

Jika sepanjang tahun lebih banyak diairi tanpa bantuan manusia dan binatang, dipungut sepersepuluh. Jika sepanjang tahun lebih banyak diairi dengan bantuan, maka dipungut seperduapuluh. Apabila setengah tahun diairi tanpa bantuan, dan setengah tahun lagi dengan bantuan, maka dipungut 3/40. [‘Abdul Qadim Zallum, Al-Amwaal fi Daulah al-Khilafah, bab zakat tanaman dan buah-buahan]

Cara Pemungutan Zakat Tanaman dan Buah-buahan

Zakat tanaman dan buah-buahan diambil dari jenis tanaman dan jenis buah-buahan yang diwajibkan zakatnya.  Yang diambil sebagai zakat adalah tanaman dan buah-buahan yang kualitasnya pertengahan; artinya tidak terlalu buruk dan tidak terlalu bagus. Tidak diperbolehkan bagi pemungut zakat sengaja memilih tanaman yang paling bagus. Hal ini mengingat sabda Rasulullah saw, “Engkau harus menghindari dari harta mereka yang paling baik

          Begitu juga tidak dibolehkan kepada pemilik tanaman dan buah-buahan sengaja memilih yang buruk untuk dikeluarkan zakatnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt:

]وَلاَ تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ[

Janganlah kalian memilih yang buruk dari harta kalian untuk dizakatkan.. (TQS. al-Baqarah [2]: 267)

Selain itu ada larangan dari Nabi saw untuk mengambil zakat dari buah kurma cacat dan sudah kelewat tua (busuk).  Yang pertama kulitnya melekat pada biji kurma, dan yang lainnya akan berubah menjadi kurma yang terlalu kering dan rusak.   Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasaiy.

            Pada zakat tanaman dan buah-buahan boleh diambil diganti dengan uang atau yang lainnya sebagai pengganti dari zakat tanaman dan buah-buahan.  Ketentuan ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Amru bin Dinar dari Thawus yang menyatakan: ‘Sesunggunya Nabi saw mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, maka dia (Mu’adz) mengambil baju/kain sebagai pengganti (zakat) dari jewawut dan gandum.’

Karena ada jenis kurma yang tidak bisa menjadi kurma kering (ruthab) dan ada juga jenis anggur yang tidak bisa menjadi kismis; maka zakatnya diambil berdasarkan harganya.. Telah diriwayatkan dari Mu’adz dalam masalah zakat ini bahwasanya ia sendiri telah mengambil intinya saja, yang terungkap dalam ucapannya sebagai berikut: ‘Berikanlah kepadaku (gamis) atau pakaian yang akan aku ambil dari kalian sebagai (inti dari) zakat. Sesungguhnya hal itu lebih ringan atas kalian dan lebih bermanfaat bagi kaum Muhajirin di Madinah.’

Di dalam as-Sunnah juga dituturkan bahwasanya beliau mewajibkan zakat pada harta, kemudian beliau menggantikannya dengan sesuatu yang lebih mudah bagi yang wajib berzakat.   Dalam hal ini, Nabi saw pernah mengirimkan surat kepada Mu’adz yang berada di Yaman, agar memungut jizyah sebagai berikut, “Dari setiap orang dewasa diambil satu dinar atau yang setara dengan itu sebagai penggantinya“.

Nabi saw juga telah mengambil substansi dari pengganti bendanya, yaitu dengan mengambil baju sebagai pengganti emas. Hal ini seperti surat yang dikirim oleh beliau kepada penduduk Najran yang isinya, “Sesungguhnya wajib atas mereka mengeluarkan 100 hiltun setiap tahun atau yang setara dengan uqiyah”.

Demikian juga Umar mengambil jizyah dalam bentuk unta sebagai pengganti emas dan perak. Begitu juga Ali mengambil jizyah berupa jarum, tali dan pisau sebagai pengganti emas dan perak.

One thought on “Zakat Tanaman dan Buah-Buahan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s