Membari Nafkah dengan Nafkah yang Halal dan Baik

Menafkahi Keluarga Dengan Nafkah Yang Halal dan Baik dan Larangan Menafkahi Dengan Nafkah Haram

           Islam telah mewajibkan kaum Muslim untuk menafkahi keluarga maupun orang-orang yang berada di bawah tanggungannya dengan nafkah yang baik dan halal.[1] 

Seorang Muslim dilarang menafkahi dirinya sendiri, keluarga, maupun orang-orang yang berada di bawah tanggungjawabnya dengan nafkah yang diperoleh dari jalan yang menyimpang dari ketentuan Islam.   Allah swt telah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”[al-Baqarah:267]

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni`mat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.[al-Nahl:114]

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

“…Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.”[al-A’raaf:157]

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”[al-Maidah:88]

           Pada dasarnya, yang dimaksud dengan “al-aklu” (makan) pada ayat-ayat di atas adalah memanfaatkan (al-intifaa’).  Memanfaatkan di sini tidak hanya terbatas pada mengkonsumsinya saja, akan tetapi juga mencakup memakai, menikmati, mendiami, menyedekahkan, dan lain sebagainya.[2]  Dengan demikian, seorang Muslim dilarang memanfaatkan harta maupun jasa yang diperoleh dengan cara yang tidak halal; semacam harta yang diperoleh dari riba (bunga bank), pelacuran, menipu, serta cara-cara lain yang bertentangan dengan syariat.

           Madzhab Malikiyyah berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan “al-thayyibaat” adalah “al-muhallalaat” (yang dihalalkan).” Seakan-akan Allah swt mensifati sesuatu yang halal dengan “al-thayyib” (baik).”   Sebab, kata “al-thayyibaat” mengandung pujian dan keluhuran.   Atas dasar itu, kami menyatakan bahwa al-khabaaits adalah “al-muharramaat” (yang diharamkan).  Ibnu ‘Abbas berkata, “Al-Khabaaits adalah daging babi, riba, dan sebagainya. Imam Malik sendiri menghalalkan binatang-binatang yang menjijikkan, seperti ular, serangga, dan lain sebagainya”.[3]

           Madzhab Syafi’iy berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan “al-thayyibaat” adalah semua hal yang berhubungan dengan makanan.   Akan tetapi, menurut Imam Syafi’iy, lafadz “al-thayyibaat” di sini tidak bersifat umum.  Sebab, jika lafadz ini berlaku umum, maka khamer dan babi adalah halal.  Lafadz ini hanya berlaku khusus untuk makanan yang dihalalkan oleh syara’.[4]  Beliau berpendapat, bahwa kata “al-khabaaits” di dalam ayat itu mencakup benda yang diharamkan oleh syara’ maupun yang menjijikkan.  Oleh karena itu, beliau mengharamkan hewan-hewan yang menjijikkan, seperti halnya, serangga, ular, dan lain sebagainya.[5]

           Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menyatakan, bahwa ayat di atas merupakan perintah Allah swt kepada orang-orang beriman agar memanfaatkan dan mensyukuri rejeki Allah swt yang halal dan baik.  Sebab, rejeki yang baik adalah kenikmatan yang bisa menjadi sarana untuk beribadah kepada Allah swt.[6]

           Imam Thabariy menyatakan, bahwa Allah swt telah memerintahkan kaum Muslim untuk memakan rejeki yang halal, dan melarang kaum Muslim menghalalkan apa yang diharamkan, dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah swt[7].

           Ali Al-Shabuniy, dalam Shafwaat al-Tafaasiir mengatakan,”Makanlah apa yang dihalalkan bagi kalian, serta rejeki baik (thayyib) yang telah diberikan Allah kepada kalian.  Di dalam kitab al-Tashiil dinyatakan, “Nikmatilah makanan serta isteri yang halal, dan lain sebagainya.  Khusus untuk kata “al-aklu” (makanan) selalu disebutkan dalam bentuk mudzakkar.  Sebab, makanan adalah sesuatu yang paling dibutuhkan oleh manusia.”[8] 

           Imam al-Baghawiy, dalam tafsir al-Baghawiy,  menyatakan, “Menurut ‘Abdullah ibn al-Mubarak, yang dimaksud halal adalah semua rejeki yang diperoleh berdasarkan tuntunan Allah swt.”[9]

           Nafkah yang halal dan baik akan memberikan keberkahan dan kenikmatan hidup.  Sebab, Allah swt tidak menerima sesuatu dari hambaNya kecuali yang baik (thayyibat).

Di dalam hadits shahih dituturkan bahwa, Allah swt tidak akan mendengarkan doa seseorang jika ia mengkonsumsi makanan yang haram, meminum minuman yang haram, mengenakan pakaian yang haram, dan lain sebagainya.   Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Wahai manusia, sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik (thayyib), dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukmin sebagaimana halnya Ia memerintah para Rasul.  Kemudian, Ia berfirman, “Wahai para Rasul, makanlah dari rejeki yang baik-baik, dan berbuat baiklah kalian.  Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang engkau ketahui.”  Selanjutnya, beliau bercerita tentang seorang laki-laki yang berada di dalam perjalanan yang sangat panjang, hingga pakaiannya lusuh dan berdebu.   Laki-laki itu lantas menengadahkan dua tangannya ke atas langit dan berdoa, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku..”, sementara itu makanan yang dimakannya adalah haram, minuman yang diminumnya adalah haram, dan pakaian yang dikenakannya adalah haram; dan ia diberi makanan dengan makanan- yang haram.  Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.”.  [HR. Muslim]

         Al-Qadliy berkata, “Hadits ini merupakan salah satu pilar agama Islam dan tonggak dari hukum-hukum Islam.  Ada 40 hadits yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hadits ini.  Di dalam hadits ini ada perintah kepada kaum Muslim untuk berinfak dengan yang rejeki halal, serta larangan untuk berinfak dengan rejeki yang haram.   Hadits ini juga menerangkan, bahwa minuman, makanan, pakaian, dan lain-lain harus halal dan terjauh dari  syubhat; dan siapa saja yang berdoa hendaknya ia memenuhi syarat-syarat tersebut, dan menjauhi minuman, makanan, dan pakaian yang haram.”[10]

           Imam al-Hafidz Abu al-‘Ala al-Mubarakfuriy, dalam Tuhfat al-Ahwadziy, menyatakan bahwa makna hadits ini adalah, Allah swt suci dari noda, dan tidak akan menerima dan tidak boleh mendekatkan diri kepadaNya, kecuali sejalan dengan makna hadits tersebutlah”.[11]

           Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya, seorang Muslim wajib menafkahi dirinya, keluarganya, serta orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya dengan nafkah yang halal dan baik; dan sebaliknya ia dilarang memberikan nafkah dengan nafkah yang haram dan buruk kepada dirinya, keluarga, serta orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. [Fathiy Syamsuddin Ramadhan An Nawiy]

[1] Imam Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, hadits no.1686; Imam al-Hafidz Mohammad Abu al-‘Ala, Tuhfat al-Ahwadziy, hadits no. 2722

[2] Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, juz 2/215

[3] Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, surat al-Maidah 88

[4] Bandingkan juga dengan Imam Thabariy, Tafsir al-Thabariy, juz 7/12

[5] Ibid, sural al-Maidah 88

[6] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, surat al-Nahl:114. lihat juga Imam al-Baidlawiy, Tafsir al-Baidlawiy, juz 3/424

[7] Imam Thabariy, Tafsir al-Thabariy, juz 7/54

[8] Ali al-Shabuniy, Shafwaat al-Tafaasiir, juz 1/362.  Lihat juga, al-Tashiil, hal.186, Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 6/263

[9] Al-Baghawiy, Tafsiir al-Baghawiy, juz 2/59, lihat juga Imam Syaukani, Fath al-Qadiir, juz 2/70.

[10]  Imam Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, hadits no. 1686

[11]  Tuhfat al-Ahwadziy bi Syarh Jaami’ al-Turmidziy, hadits no. 2722

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s