Hukum Bersalaman setelah Sholat

Benarkah bersalaman setelah selesai sholat berjama’ah bid’ah yang diharamkan? Adakah fatwa dari ulama mu’tabar mengenai masalah ini?

              Mushafahah (berjabat tangan) seorang Muslim dengan saudara Muslimnya ketika bertemu, hukum asalnya adalah mustahab (sunnah).   Sebab, mushafah bisa memperkuat persatuan dan kecintaan sesama kaum Muslim.    Banyak nash syariat menunjukkan bahwa mushafahah merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh para shahabat, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam ahli hadits yang lain.   Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Qatadah, bahwasanya ia berkata:

قُلْتُ لِأَنَسٍ أَكَانَتِ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ

“Saya bertanya kepada Anas ra, apakah jabat tangan dilakukan oleh para shahabat Nabi saw.  Beliau menjawab, “Iya”.[HR. Imam Bukhari]

              Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat bahwasanya Ibnu Mas’ud ra berkata:

عَلَّمَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّشَهُّدَ وَكَفِّي بَيْنَ كَفَّيْهِ وَقَالَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ إِلَيَّ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي

“Nabi saw mengajariku “tasyahhud” dan “menjabat erat tanganku di antara kedua tangannya”.   Ka’ab bin Malik berkata,”Saya tengah masuk ke dalam masjid, di mana saat itu ada Rasulullah saw.  Lalu, Thalhah bin ‘Ubaidillah berdiri tergesa-gesa, hingga ia menjabat tanganku dan mengucapkan salam kepadaku”.[HR. Imam Bukhari]

              Rasulullah saw menetapkan, bahkan menyukai jabat tangan.  Dari shahabat al-Bara’ bin ‘Aazib ra bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا.

“Tidaklah dua orang Muslim bertemu, lalu saling bersalaman, kecuali dosa keduanya akan diampuni, sebelum keduanya berpisah”. [HR. Imam Abu Dawud dan Tirmidziy, dan menyatakan hadits ini hasan]

              Di dalam Kitab Syarah Shahih al-Bukhari, Imam Ibnu Bathal menyatakan:

المصافحة حسنة عند عامة العلماء ، وقد استحبها مالك بعد كراهة ، وهى مما تنبت الود وتؤد المحبة ، ألا ترى قول كعب بن مالك فى حديثه الطويل حين قام إليه طلحة وصافحه : ( فوالله لا أنساها لطلحة أبدًا ) فأخبر بعظيم موقع قيام طلحة إليه من نفسه ومصافحته له وسروره بذلك ، وكان عنده أفضل الصلة والمشاركة له ، وقد قال أنس : إن المصافحة كانت فى أصحاب رسول الله ، وهم الحجة والقدوة الذين يلزم اتباعهم ، وقد ورد فى المصافحة أثار حسان .

“Menurut mayoritas ulama, berjabat tangan (mushafahah) adalah kebaikan. Imam Malik menyukai jabat tangan, setelah sebelumnya tidak menyukai.  Jabat tangan termasuk perkara yang bisa menumbuhkan kasih sayang dan mengantarkan kepada kecintaan. Tidakkah Anda perhatikan perkataan Ka’ab bin Malik dalam kisahnya yang panjang, tatkala Thalhah bin ‘Ubaidillah ra berdiri menghampirinya dan menjabat tangannya, yakni:  [“Demi Allah, aku tidak pernah melupakannya untuk Thalhah selama-lamanya”]  .  Lalu beliau menceritakan keagungan berdirinya Thalhah saat menyambut dirinya dibandingkan dirinya sendiri, dan jabat tangan Thalhah kepadanya, serta kegembiraannya dengan hal itu”.  Dan bagi Ka’ab bin Malik ra hal itu merupakan seutama-utama hubungan dan interaksi dirinya dengan Thalhah ra.  Anas ra berkata, “Jabat tangan (al-mushafahah) dilakukan oleh para shahabat.  Mereka adalah hujjah dan panutan yang wajib diikuti.  Dan di dalam jabat tangan terdapat pengaruh-pengaruh yang baik”.[Imam Abu al-Hasan ‘Aliy bin Khalaf bin ‘Abd al-Malik bin Bathal al-Bakriy al-Qurthubiy, Syarah Shahih al-Bukhariy, Juz 9/44]

Hukum Berjabat Tangan Setelah Sholat

              Masalah ini masih diperselisihkan.  Imam Nawawiy, di dalam Kitab al-Majmuu’ menyatakan:

المصافحة سنة عند التلاقي للاحاديث الصحيحة وإجماع الائمة عن قتادة قال ” قلت لانس أكانت المصافحة في أصحاب رسول الله صلي الله عليه وسلم قال نعم ” رواه البخاري وعن كعب بن مالك ان طلحة بن عبيدالله قام إليه فصافحه بحضرة النبي صلي الله عليه وسلم ” رواه البخاري ومسلم في سنن ابى داود والترمذي عن البراء قال ” قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من مسلمين يتلاقيان فيتصافحان الا غفر لهما قبل أن يتفرقا وعن انس قال قال رجل ” يا رسول الله الرجل منا يلقي أخاه أو صديقه أينحني له قال لا قال افيلتزمه ويقبله قال لا قال أفيأخذ بيده ويصافحه قال نعم ” رواه الترمذي وقال حديث حسن وتسن المصافحة عند كل لقاء وأما ما اعتاده الناس من المصافحة بعد صلاتي الصبح والعصر فلا أصل له في الشرع علي هذا الوجه  ولكن لا بأس به فان أصل المصافحة سنة وكونهم خصوها ببعض الاحوال وفرطوا في اكثرها لا يخرج ذلك البعض عن كونه مشروعة فيه وقد سبق بيان هذه القاعدة في آخر صفة الصلاة

“Berjabat tangan ketika bertemu adalah sunnah, berdasarkan hadits-hadits shahih dan Ijma’ para ulama.  Dari Qatadah dituturkan bahwasanya ia berkata, “Saya bertanya kepada Anas, apakah jabat tangan dilakukan oleh para shahabat Rasulullah saw.  Beliau menjawab, “Iya”.[HR Imam Bukhari].  Dari Ka’ab bin Malik diceritakan bahwasanya Thalhah bin ‘Ubaidillah berdiri menghampirinya dan menjabat tangannya di hadapan Nabi saw”.  [HR. Imam Bukhari dan Muslim].  Di dalam Sunan Abu Dawud dan Tirmidziy diceritakan dari al-Baraa’, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah dua orang Muslim yang bertemu, kemudian saling berjabat tangan, kecuali dosa-dosa keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah”.  Dari Anas ra, diceritakan bahwasanya ada seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, seorang laki-laki di antara kami hendak menjumpai saudaranya atau teman kepercayaannya, lantas apakah ia harus membungkukkan badan kepadanya?  Nabi menjawab, “Tidak”.  Laki-laki bertanya lagi, “Apakah ia harus memeluk dan menciumnya?  Nabi saw menjawab, “Tidak”.  Laki-laki itu bertanya lagi, “Apakah ia harus menarik tangannya dan menjabat tangannya?  Nabi saw menjawab, “Iya”. [HR Imam Tirmidziy, dan beliau menyatakan hadits ini hasan].  Disunnahkan berjabat tangan ketika bertemu.   Adapun jabat tangan selepas sholat Shubuh dan Ashar yang dijadikan kebiasaan oleh masyarakat, maka jabat seperti ini tidak memiliki asal di dalam syariat.  Tetapi jabat tangan seperti ini tidaklah mengapa.  Asal dari mushafahah adalah sunnah.   Adapun keberadaan mereka yang mengkhususkan jabat tangan pada beberapa keadaan dan berlebih-lebihan dalam memperbanyak mushafah, maka beberapa keadaan tersebut  tidaklah mengeluarkan keberadaannya sebagai suatu yang disyariatkan.  Kaedah seperti ini sudah dijelaskan sebelumnya  pada akhir (bab)  shifat sholat…”. [Imam Nawawiy, Al-Majmuu’, Juz 4/634; Raudlat al-Thalibiin wa ‘Umdat al-Muftiin, Juz 7/438]

              Di dalam Kitab Al-Fatawa al-Haditsiyyah, Ibnu Hajar al-Haitamiy al-Makiy menyatakan:

قال العز بن عبد السلام رحمه الله تعالى : البدعة فعل ما لم يعهد في عهد النبيّ ( صلى الله عليه وسلم ) ، وتنقسم إلى خمسة أحكام يعني الوجوب والندب الخ ، وطريق معرفة ذلك أن تعرض البِدعة على قواعد الشرع فأي حكم دخلت فيه فهي منه ، فمن البدع الواجبة تعلم النحو الذي يفهم به القرآن والسنة ، ومن البدع المحرمة مذهب نحو القدرية ، ومن البدع المندوبة إحداث نحو المدارس والاجتماع لصلاة التراويح ، ومن البدع المباحة المصافحة بعد الصلاة

“Imam Al-‘Iz Bin ‘Abd al-Salaam rahimahullah ta’ala berkata,” Bid’ah adalah perbuatan yang tidak pernah dikerjakan pada masa Nabi saw.  Bid’ah dibagi menjadi lima hukum, yakni wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.  Jalan untuk mengetahui hal tersebut adalah menimbang bid’ah di atas kaedah-kaedah syara’.  Maka, ke dalam hukum apapun bid’ah itu masuk, maka ia termasuk bagian dari hukum tersebut.  Di antara bid’ah wajib adalah belajar ilmu nahwu untuk memahami al-Quran dan Sunnah.  Di antara bid’ah haram adalah merujuk kepada kelompok Qadariyyah.  Di antara bid’ah sunnah adalah mendirikan sekolah-sekolah dan berkumpul untuk sholat tarwih.  Di antara bid’ah mubah adalah jabat tangan setelah sholat..” [Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy, Al-Fataway al-Haditsiyyah, Juz 1/109]

              Hanya saja, sebagian ulama mencela aktivitas jabat tangan setelah selesai sholat, dan memasukkannya ke dalam bid’ah madzmumah.  Di dalam Kitab Ghadzaa’ al-Albaab karya al-Safaariiniy disebutkan:

أن ابن تيمية سئل عن المصافحة بعد العصر والفجر هل هى سنة مستحبة أم لا ؟ فأجاب بقوله : أما المصافحة عقب الصلاة فبدعة لم يفعلها رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يستحبها أحد من العلماء انتهى

“Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang jabat tangan setelah selesai sholat Ashar dan Shubuh, apakah hal itu sunnah yang disukai (mustahab) atau tidak?  Dia menjawab dengan jawaban, “Adapun jabat tangan setelah selesai sholat, maka hal itu adalah bid’ah dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw, dan tidak seorang ulama pun yang mensunnahkannya”.[ Abu al-‘Aun Mohammad bin Ahmad bin Salim al-Safaariiniy al-Hanbaliy,  Ghadzaa` al-Albaab fi Syarh Mandhuumat al-Adab, Juz 1/328]

              Pendapat terpilih dalam masalah ini adalah jabat tangan selesai sholat tidaklah haram.  Jabat tangan selesai sholat termasuk dalam kesunnahan jabat tangan dalam perjumpaan, yang mana Allah swt akan mengampuni dosa-dosa orang yang saling berjabat tangan.  Hanya saja, jika ada sebagian kaum Muslim yang tidak melakukan hal ini, sesungguhnya, ia tengah mengamalkan apa yang diyakininya sebagai pendapat syar’iy.  Begitu pula sebaliknya.

              Masalah yang masih diperdebatkan di kalangan ulama mu’tabar, seperti halnya mushafahah setelah selesai sholat, tidak boleh dijadikan sebagai bahan untuk menciptakan perselisihan dan pertikaian di tengah-tengah kaum Muslim.  Hendaknya mereka menyibukkan diri pada persoalan-persoalan yang lebih penting, yakni memberantas kemungkaran yang sangat besar, yakni diterapkannya hukum-hukum kufur di tengah-tengah kehidupan kaum Muslim, serta menggantinya dengan syariat Islam.

Oleh : Ustadz Syamsuddin Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s