Tafsir Surat Al Falaq

“Adapun perkara-perkara yang berkaitan dengan cabang-cabang fikih, maka perbuatan sihir (menyihir) adalah haram; dan termasuk dosa besar menurut ijma’ (kesepakatan). Telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab al-Iman, bahwasanya Rasulullah saw menghitung sihir termasuk dalam 7 perkara yang membinasakan. [Imam Abu Zakariya an-Nawawiy asy Syafi’iy rahimahullah ta’ala: [Syarah Shahih Muslim, Juz 14/176]”

 قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

  • Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, (2) dari kejahatan makhlukNya, (3) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (4) dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, (5)  dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”.

Muqaddimah

       Surat al-Falaq termasuk surat Makiyah. Di dalamnya ada pengajaran bagi manusia agar memohon perlindungan kepada al-Rahman, dan agar mereka berlindung dengan Keagungan dan KekuasaanNya dari kejahatan semua makhlukNya, dari kejahatan saat malam semakin gelap, dari keburukan orang-orang dengki dan tukang sihir. [Syaikh Ali Ash-Shabuniy, Shafwat al-Tafaasiir, Juz 3/623]

       Terdiri dari 5 ayat. Satu dari Surat al-Mu’awidzatain.

       Diriwayatkan oleh Imam Tirmidziy, An Nasaaiy, dan Ibnu Majah:

عن أبي سعيد: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يتعوذ من أعين الجان وعين الإنسان، فلما نزلت المعوذتان أخذ بهما، وترك ما سواهما. رواه الترمذي والنسائي وابن ماجة، وقال الترمذي: حديث حسن.

“Dari Abi Sa’id, “Sesungguhnya Rasulullah saw memohon perlindungan dari mata jin dan mata manusia. Ketika turun surat al-Mu’awidzatain, beliau menggunakan keduanya, dan meninggalkan yang lain”. [HR. Imam Tirmidziy, An Nasaaiy, dan Ibnu Majah.  Imam Tirmidziy menyatakan, “Hadits hasan”.

 Sebab Turun Ayat

       Diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih bahwasanya Nabi saw disihir oleh Lubaid bin  A‘sham, seorang Yahudi dari Bani Zuraiq.   Dituturkan bahwasanya Nabi saw  merasa seakan-akan telah mendatangi isterinya, padahal beliau tidak mendatangi mereka. Sihir itu menggunakan media sisir dan rambut yang terjatuh akibat disisir, dan diletakkan di seludang mayang yang ditaruh di bawah sumur Dzi Arwan atau Dzarwan. [Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, serta selain keduanya]

SIHIR DAN HAL-HAL YANG TERKAIT DENGANNYA

       Imam Nawawiy dalam Kitab Syarah Shahih Muslim menyatakan”

قَالَ الْإِمَامُ الْمَازَرِيُ رَحِمَهُ اللهُ : مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَجُمْهُوْرِ عُلَمَاءِ الْأُمَّةِ عَلىَ إِثْبَاتِ السِّحْرِ , وَأَنَّ لَهُ حَقِيْقَةٌ كَحَقِيْقَةِ غَيْرِهِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الثَّابِتَةِ

Imam al-Mazariy rahimahullah berkata, “Madzhab ahlus sunnah dan mayoritas ulama umat telah menetapkan keberadaan sihir, dan sihir itu memiliki hakekat, sebagaimana hakekat-hakekat benda-benda tetap lainnya”. [Imam Nawawiy asy Syafi’iy, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Juz 14/174]

      قَالَ الْقَاضِيُ عِيَاض : وَقَدْ جَاءَتْ رِوَايَاتُ هَذَا الْحَدِيْثِ مُبِيْنَةً أَنَّ السِّحْرَ إِنَّمَا تُسَلِّطُ عَلىَ جَسَدِهِ وَظَوَاهِرِ جَوَارِحِهِ لاَ عَلَى عَقْلِهِ وَقَلْبِهِ وَاعْتِقَادِهِ

Al-Qadliy ‘iyadl berkata, “Riwayat-riwayat ini menetapkan bahwasanya sihir hanya menguasai jasad beliau saw dan anggota badannya, tidak menguasai akal, hati, dan keyakinannya”. [Imam Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, Juz 14/175]

       Masih menurut Imam Abu Zakariya an-Nawawiy asy Syafi’iy rahimahullah ta’ala: [Syarah Shahih Muslim, Juz 14/176]

وَأَمَّا مَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَسْأَلَةِ مِنْ فُرُوْعِ الْفِقْهِ فَعَمَلُ السِّحْرِ حَرَامٌ , وَهُوَ مِنَ الْكَبَائِرِ بِالْإِجْمَاعِ , َوقَدْ سَبَقَ فِي كِتَابِ اْلإِيْمَانِ أَنَّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَدَّهُ مِنَ السَّبْعِ الْمُوْبِقَاتِ , وَسَبَقَ هُنَاكَ شَرْحُهُ , وَمُخْتَصَرُ ذَلِكَ أَنَّهُ قَدْ يَكُوْنُ كُفْرًا , وَقَدْ لاَ يَكُوْنُ كُفْرًا, بَلْ مَعْصِيَّتُهُ كَبِيْرَةٌ , فَإِنْ كَانَ فِيْهِ قَوُلٌ أَوْ فِعْلٌ يَقْتَضِيُ الْكُفْرُ كُفْرٌ, وَإِلاَّ فَلاَ وَأَمَّا تَعَلُّمُهُ وَتَعْلِيْمُهُ فَحَرَامٌ , فَإِنْ تَضَمَّنَ مَا يَقْتَضِيُ الْكُفْرُ كُفْرٌ , وَإِلاَّ فَلاَ . وَإِذاَ لمَ ْيَكُنْ فِيْهِ مَا يَقْتَضِيُ الْكُفْرُ عُزِرَ , وَاسَتُتِيْبَ مِنْهُ , وَلاَ يُقْتَلُ عِنُدَنَا . فَإِنْ تَابَ قَبِلَتْ تَوْبَتُهُ

“Adapun perkara-perkara yang berkaitan dengan cabang-cabang fikih, maka perbuatan sihir (menyihir) adalah haram; dan termasuk dosa besar menurut ijma’ (kesepakatan). Telah dijelaskan sebelumnya dalam Kitab al-Iman, bahwasanya Rasulullah saw menghitung sihir termasuk dalam 7 perkara yang membinasakan.  Dan syarah haditsnya sudah dijelaskan sebelumnya.  Ringkasnya, sihir kadang-kadang bisa (menyebabkan) kufur, dan kadang-kadang tidak (menyebabkan) kufur tetapi dosa besar.   Jika di dalam praktek sihir itu ada perkataan atau perbuatan yang meniscayakan kekufuran, maka sihir itu kufur. Jika tidak meniscayakan kekufuran, maka tidak kufur.  Adapun belajar dan mengajarkan sihir hukumnya haram.  Jika hal itu mengandung perkara yang meniscayakan kekufuran, maka ia kufur.   Jika tidak maka tidak kufur.  Jika di dalam sihir itu tidak ada perkara yang meniscayakan kekufuran, maka pelakunya dita’zir, dan ia diminta bertaubat, dan pelakunya menurut kami tidak dihukum mati.  Jika pelakunya taubat, maka taubatnya diterima.

       Imam Nawawiy, di dalam Kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan pandangan Imam Malik tentang sihir sebagai berikut:

َوقَالَ مَالِكُ : السَّاحِرُ كَافِرٌ يُقْتَلُ بِالسِّحْرِ , وَلاَ يُسْتَتَابُ , وَلاَ تُقْبَلُ تَوْبَتُهُ , بَلْ يَتَحَتَّمُ قَتْلُهُ . وَالْمَسْأَلَةُ مَبْنِيَةٌ عَلَى الْخِلاَفِ فِي قَبُوْلِ تَوْبَةِ الزِّنْدِيْقِ , لِأَنَّ السَّاحِرَ عِنْدَهُ كَافِرٌ كَمَا ذَكَرْنَا , وَعِنْدَناَ لَيْسَ بِكَافِرٍ , وَعِنْدَنا تُقْبَلُ تَوْبَةُ الْمُنَافِقِ وَالزِّنْدِيْقِ . قَالَ الْقَاضِيُ عِيَاضٌ : وَبِقَوْلِ مَالِكٍ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ , وَهُوَ مَرْوِيٌ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحاَبَةِ وَالتَّابِعِيْنَ

Imam Malik berkata, “Penyihir dihukumi sebagai orang kafir, dan wajib dihukum mati karena sihirnya, dan ia tidak diminta untuk bertaubat, dan jika taubat, maka taubatnya tidak diterima, bahkan dipastikan ia harus dihukum mati.  Qadliy Iyadl menyatakan bahwasanya berdasarnya pendapat Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat, yakni diriwayatkan dari mayoritas shahabat dan tabi’un.

Oleh: Ustadz Syamsuddin Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s