Khutbah Jum’at: Iman dan Ketakwaan Hakiki

Takwa kepada Allah itu bukanlah berpuasa pada siang hari, shalat pada malam hari dan memadukan keduanya. Namun, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah haramkan dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan. ( Umar bin Abdul Aziz rahimahulLâh)

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakwaan. Dengan begitu, kita akan semakin mampu berpegang teguh dengan agama-Nya. Sehingga kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak.

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah,

Tak ada orang yang beruntung di dunia dan di akhirat kecuali orang-orang yang bertakwa. Karena itu, melalui mimbar yang mulia ini, kami serukan, marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah di mana pun dan kapan pun kita berada. Saat lapang maupun sempit, saat senang maupun sedih, saat sehat maupun sakit, saat bekerja maupun di rumah, saat bersama-sama maupun sendirian.

Menarik apa yang disaampikan Umar bin Abdul Aziz rahimahulLâh, sebagaimana dikutip Imam as-Suyuthi dalam Ad-Durr al-Mantsûr, berkata:

لَيْسَ تَقْوَى اللَهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ وَلاَ بِقِيَامِ اللّيْلِ والتَّخْلِيْطِ فِيْمَا بَيْنَ ذَلِكَ، وَلَكِنْ تَقْوَى اللَّهِ تَرْكُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَأَدَاءُ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ

Takwa kepada Allah itu bukanlah berpuasa pada siang hari, shalat pada malam hari dan memadukan keduanya. Namun, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah haramkan dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan.

Maka, tidak cukup bagi orang yang mengaku bertakwa, rajin ibadah, tapi mengabaikan aturan Allah SWT dalam urusan lainnya. Tidak boleh ketakwaan dibuang gara-gara baju seragam. Haram ditinggalkan ketakwaan gara-gara jabatan dan kekuasaan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Hakikat takwa dijelaskan secara gambang oleh Imam Ali ra. Takwa adalah al khauf min ar Rabbil jalil, wa amalu bi tanzil, wa i’dadu liyyaumirahil (takut kepada Rabb yang Maha Agung. Menjalankan apa yang diturunkan Allah. Bersiap diri menghadapi Hari Kiamat).

Maka tanda orang yang bertakwa, pertama, dia hanya takut kepada Allah. Dia yakin bahwa Allah Maha Melihat, Allah Maha Tahu dan Maha segalanya. Dia pun yakin terhadap yang ghaib lainnya: adanya malaikat yang selalu mengawasinya 24 jam penuh. Mereka pun percaya kepada surga dan neraka.

Yang kedua, orang yang bertakwa adalah amalu bi tanzil (melaksanakan ketaatan kepada Allah), dalam kondisi suka maupun berat hati. Ketika Allah memanggil mereka untuk melaksanakan shalat, mereka akan bergegas shalat karena mereka menyadari itu adalah perintah Allah. Para laki-laki berbondong-bondong ke masjid, memakmurkan rumah Allah.

Ketika Allah menyerukan untuk mendakwahkan agama ini, mereka taat dan melaksanakan. Demikian pula ketika Allah mengharuskan melaksanakan perintah-Nya, ia bergegas dengan seluruh daya dan upayanya. Sebaliknya, ketika Allah melarang sesuatu, tak ada pantang baginya untuk meninggalkannya.

Semua itu dilakukan karena orang yang bertakwa senantiasa mengingat datangnya Hari Perhitungan yakni hidup setelah mati.

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

“dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.”(QS Al Hajj: 7)

Di sanalah kita akan ditimbang amal kita. Siapa yang amal baiknya lebih berat timbangannya daripada amal buruknya, maka surga balasannya. Sebaliknya, jika amal buruknya lebih berat, neraka adalah yang paling pantas baginya.

Jamaah yang dimuliakan Allah

Walhasil, orang yang bertakwa sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu tentang takwa. Jawab Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, “Apakah Anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?” Jawab Umar radhiyallahu ‘anhu, “Ya.” Ubay radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Lalu Anda berbuat apa?” Jawab Umar, “Saya sangat waspada dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.” Ubay radhiyallahu ‘anhu berkata, “Itulah contoh taqwa.”

Kita tidak akan tahu itu duri atau bukan, kalau kita tidak kembali kepada ketentuan Allah SWT. Itulah rambu-rambu yang ada dalam Alquran dan Hadits. Alhamdulillah, para ulama telah memerincinya dan kita tinggal mempelajarinya.

Dari mimbar ini, marilah kita peluk Islam ini dengan seerat-eratnya.

 ﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ﴾

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh kalian yang nyata (QS al-Baqarah [2]: 208).

2 thoughts on “Khutbah Jum’at: Iman dan Ketakwaan Hakiki”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s