Tafsir Surat Yasin 12: Pahala dan Dosa yang Mengalir

Allah Swt berfirman dalam Surat Yasin Ayat 12:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

_Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (al-lawh al-mahfûzh)_ (QS Yasin [36]: 12).

Continue reading Tafsir Surat Yasin 12: Pahala dan Dosa yang Mengalir

Pengaturan Hubungan Pria dan Wanita dalam Islam

Islam telah menetapkan hukum-hukum Islam tertentu yang berkenaan dengan interaksi pria dan wanita. Hukum-hukum tersebut banyak sekali jumlahnya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Islam telah memerintahkan kepada manusia, baik pria maupun wanita, untuk menundukkan pandangan. Allah SWT berfirman:

قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡ‌ۚ ذَٲلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ (٣٠) وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَـٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” (TQS an-Nûr [24]: 30-31) Continue reading Pengaturan Hubungan Pria dan Wanita dalam Islam

Konsekuensi Tauhid

 

Tauhid diambil kata dalam bahasa Arab: wahhada yuwahhidu-tawhid[an]; artinya mengesakan atau menunggalkan. Tauhid satu suku kata dengan kata wâhid (satu) atau kata ahad (esa). Dalam ajaran Islam tauhid berarti keyakinan akan keesaan Allah SWT. Kalimat tauhid ialah kalimat Lâ ilâha illalLâh yang berarti: Tidak ada Tuhan selain Allah. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh  Allah SWT sendiri dalam firman-Nya:

﴿وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ﴾

Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (TQS al-Baqarah [2]: 163). Continue reading Konsekuensi Tauhid

Kasih Sayang dan Kelembutan Rasulullah SAW

Rasulullah saw bukanlah orang yang keji dan orang yang membiarkan kekejian.  Beliau tidak mengeluarkan suara keras-keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan.  Beliau suka memaafkan dan berjabatan tangan”.[HR. Imam Turmudziy]

Karakter yang harus selalu melekat kepada diri seorang pemimpin adalah lembut dan penyayang kepada orang-orang yang dipimpinnya.   Pasalnya, kelembutan dan kasih sayang seorang pemimpin akan menumbuhkan rasa hormat, kecintaan, dan ketenangan pada diri orang-orang yang dipimpinnya.   Jika seorang pemimpin telah dicintai oleh orang-orang yang dipimpinnya, niscaya ia akan mampu mengatasi seluruh problem yang mendera organisasinya.   Wajar saja, Allah swt menekankan masalah kepada Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin umat manusia.  Allah swt berfirman;

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”.[TQS Al-Syu’araa’ (26) :215].   Continue reading Kasih Sayang dan Kelembutan Rasulullah SAW

Khutbah Jum’at: Iman dan Ketakwaan Hakiki

Takwa kepada Allah itu bukanlah berpuasa pada siang hari, shalat pada malam hari dan memadukan keduanya. Namun, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah haramkan dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan. ( Umar bin Abdul Aziz rahimahulLâh)

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakwaan. Dengan begitu, kita akan semakin mampu berpegang teguh dengan agama-Nya. Sehingga kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak. Continue reading Khutbah Jum’at: Iman dan Ketakwaan Hakiki

Mengokohkan Ukhuwah Islamiyah

Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka. Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka…Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik.” (Will Durant, 1926. The History of Civilization, vol. xiii, hlm. 151). Continue reading Mengokohkan Ukhuwah Islamiyah