Ke-zuhud-an Nabi Muhammad SAW

Sebagian ulama menyatakan, kezuhudan merupakan refleksi dari kesabaran.  Pasalnya, kesabaran adalah habs al-nafs ’an al-syai’ (menahan diri dari sesuatu).  Sesuatu yang ditahan di sini bisa rasa takut, godaan, kepandaian, banyak harta, dan lain sebagainya.  Jika seseorang mampu menahan dirinya dari rasa takut, maka ia termasuk orang yang sabar dari ketakutan.   Bila seseorang bisa menahan diri dari pamer (riya’), walaupun ia memiliki ilmu dan harta yang melimpah; sesungguhnya, ia termasuk orang-orang yang sabar dari sikap pamer (tawadlu’).  Seandainya seseorang bisa menahan diri untuk tidak menghambur-hamburkan hartanya, meskipun ia sanggup melakukan itu, niscaya ia termasuk orang-orang yang sabar dari penghamburan harta. Orang semacam ini disebut zuhud; yakni orang yang mampu menahan diri untuk tidak menggunakan hartanya di jalan kesesatan dan kemaksiyatan, dan mampu menahan dirinya untuk tidak hidup berlebih-lebihan, walaupun ia berhak dan mampu melakukan hal itu.

Zuhud bukanlah orang yang tidak memiliki harta, lalu ia menahan diri dan bersabar dengan keadaan tersebut.  Akan tetapi, zuhud adalah orang yang diberi harta, namun ia tidak tabdzir, tamak, dan ceroboh dengan hartanya. Dalam masalah zuhud ini Rasulullah saw bersabda;

Zuhud di dunia bukanlah dengan cara mengharamkan yang halal, atau menelantarkan harta.  Tetapi, zuhud di dunia adalah tidak menjadikan apa yang ada di tanganmu lebih dipercayai daripada apa yang ada di sisi Allah.”[HR. Imam Turmudziy dan Ibnu Majah]

Seorang pemimpin mesti menghiasi dirinya dengan kezuhudan.  Sebab, kezuhudan akan membimbingnya untuk selalu bersyukur kepada Allah swt, sekaligus menjadikan dirinya selalu menggunakan hartanya untuk sesuatu yang lebih penting dan lebih baik.   Kezuhudan juga akan mencegah dirinya dari pemborosan yang dilarang Allah dan RasulNya.

Adalah pemimpin umat Islam, Nabiyullah Mohammad saw, walaupun diberi anugerah yang sangat banyak oleh Allah swt namun, beliau bukanlah orang yang suka bergelimangan dengan harta, kikir, dan pelit dalam hal harta.  Sebaliknya, beliau menggunakan anugerah harta yang diberikan Allah kepadanya untuk urusan dan kepentingan umat manusia.  Beliau saw diberi hak oleh Allah swt untuk mengambil khumus (1/5) dari harta rampasan perang; satu jumlah yang tidak sedikit, bahkan melimpah ruah.  Namun, beliau menggunakan haknya yang sangat besar itu untuk kepentingan Islam dan kaum Muslim; dan hanya sedikit yang beliau gunakan untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya.  Kenyataan ini tampak jelas dalam kezuhudan beliau saw dalam hal makanan yang beliau makan, rumah yang beliau tempati, dan pakaian yang beliau kenakan.

Dalam hal makanan, beliau biasa memakan roti gandum yang kasar.  Beliau tidak pernah makan roti tepung yang halus dan empuk hingga beliau wafat.[1]

Imam Turmudziy meriwayatkan bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Abbas ra berkata, “Rasulullah saw pernah tidur beberapa malam berturut-turut, sedangkan beliau dan keluarganya dalam keadaan lapar karena tidak memiliki sesuatu untuk makan malam.  Roti yang biasa mereka makan sebagian besarnya adalah roti gandum yang kasar”.[HR. Imam Turmudziy]

Imam Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad juz III, hal. 212, menuturkan sebuah riwayat bahwasanya Fathimah pernah mendatangi beliau saw dengan membawa roti yang diremukkan.  Beliau saw bersabda, “Remukkan apa ini, wahai Fathimah? Fathimah berkata, “Roti pipih bulat.  Hatiku tidak tenteram hingga membawakannya untukmu.  Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya ini adalah makanan pertama yang masuk ke dalam mulut ayahmu setelah tiga hari ini.”[HR. Imam Ahmad]

Perhatikan pula lauk pauk yang biasa disantap beliau saw.  Dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, dan Imam Turmudziy dinyatakan bahwasanya kuah yang biasa beliau makan adalah cuka.  Beliau saw pernah bersabda, “Kuah yang paling enak adalah cuka”.[HR. Imam Muslim, Abu Dawud, dan Turmudziy]

Beliau kadang-kadang berlaukpaukkan daging, namun beliau saw belum pernah makan daging domba yang dipanggang.  Anas bin Malik bercerita, “Aku belum pernah melihat Rasaulullah saw memakan roti halus lagi empuk hingga beliau wafat. Aku juga tidak pernah melihat beliau makan daging kambing yang dipanggang hingga beliau meninggal.”[HR. Imam Bukhari]

Adapun dalam hal pakaian, beliau saw bukanlah orang yang memiliki banyak koleksi pakaian, meskipun beliau sanggup untuk itu.  Perhatikan riwayat ‘Aisyah ra ini, “Beliau saw tidak pernah memiliki sesuatu secara berpasang-pasangan.  Beliau tidak memiliki dua baju, dua jubah, dua kain pinggang, juga tidak memiliki sandal lebih dari sepasang”.[2]

Pakaian Nabi saw juga bukan yang indah dan mahal, akan tetapi sebagian besar pakaiannya adalah pakaian usang yang bertambal.  Abu Hurairah ra berkata, “Kami mengunjungi ‘Aisyah ra.  Beliau menunjukkan kepada kami sebuah kain penutup bertambal dan kain pinggang yang kasar.  ‘Aisyah berkata, “Kain seperti inilah yang menjadi kafan beliau ketika dimakamkan”.[HR. ‘Abdur Razaq, dan Ibnu Abi Syaibah]

Keluarga beliau saw juga memakai pakaian yang bertambal.  ‘Urwah bin Zubeir menuturkan bahwasanya ia berkata, “‘Aisyah tidak suka memperbarui bajunya, melainkan menambalnya atau membaliknya”.[3]   Semua pakain itu harganya sangat murah.  Hasan al-Bashri memperkirakan harga pakaian itu hanya 6 dirham.[HR. Ibnu Abi Syaibah]

Tempat tinggal beliau juga sangat sederhana.  Ummul Mukminin ‘Aisyah ra bercerita, “Sesungguhnya hamparan tempat tidur (kasur) Rasulullah saw terdiri atas kulit binatang, sedangkan isinya sabut korma”.[HR. Imam Muslim]

Beliau juga tidak menghiasai dinding rumahnya dengan tirai.  Beliau saw sangat marah melihat tirai di rumahnya.  Sebab, beliau menganggap hal itu berlebihan di saat kaum Muslim masih membutuhkan, dan juga mendorong seseorang mencintai dunia. ‘Aisyah ra berkata, “Suatu saat, Nabi saw berangkat perang, lalu aku menggantungkan sebuah permadani.  Ketika Rasulullah saw datang, dan melihat permadani tersebut, aku melihat pandangan tidak suka pada wajahnya. Beliau mencopot permadani dan mengoyaknya seraya berkata, “Sesungguhnya Allah swt tidak memerintahkan kita untuk menghiasi ruangan dan tanah ini”.[HR. Imam Muslim]

Beliau saw juga tidak menyimpan harta benda.  Anas bin Malik ra menuturkan, “Rasulullah saw tidak menyimpan sesuatu untuk hari esok”.[4]  Ketika wafat, beliau saw hanya meninggalkan sebuah pedang, seekor keledai, dan sebidang tanah yang disedekahkan di jalan Allah swt.[5]   Beliau saw juga meninggalkan sebuah baju besi yang digadaikan kepada seorang laki-laki Yahudi seharga tiga puluh sha’ gandum.[HR. Imam Bukhari]

[1] Shifat al-Shafwah, juz I, hal. 98.

[2] Shifat al-Shafwah, juz I, hal. 200

[3] Jami’ul Ushuul, IV, hal. 671

[4] Asy-Syifa, hal. 84

[5] Asy-Syifa, juz I, hal. 105

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s