Hukum Royalti Buku dalam Islam

Royalti buku adalah pembayaran yang diberikan oleh penerbit kepada penulis buku berupa persentase tertentu dari harga jual buku dalam periode tertentu. Sebagai contoh, penerbit bersepakat memberi royalti sebesar 10% dari harga jual buku sebesar Rp 30 ribu yang dicetak sebanyak 5.000 eksemplar untuk cetakan pertama. Maka royalti yang diterima penulis buku besarnya adalah 10 % (besaran royalti) dikalikan Rp 30 ribu (harga jual buku) = Rp 3.000,- per eksemplar buku, kemudian dikalikan 5000 eksemplar (jumlah cetak) sehingga hasilnya adalah Rp 15 juta (lima belas juta rupiah). Jumlah ini dikurangi pajak sebesar 15%, sehingga royalti bersih yang diterima penulis sebesar Rp 12.750.000,- (dua belas juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). Continue reading Hukum Royalti Buku dalam Islam

Musibah dan Muhasabah

MUSIBAH DAN MUHASABAH

Ustadz Arief B. Iskandar

Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah menuturkan, bahwa jika langit mendung, awan menghitam dan angin kencang, wajah Baginda Nabi Muhammad saw.–yang biasanya memancarkan cahaya–akan terlihat pucat-pasi. Sebab takut kepada Allah SWT. Beliau lalu keluar, lalu masuk ke masjid dalam keadaan gelisah seraya berdoa, “Ya Allah…aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hujan dan angin ini, dari keburukan apa saja yang dia kandung dan keburukan apa saja yang dia bawa.” Continue reading Musibah dan Muhasabah

Seputar Terlibat dalam Perayaan Hari Raya Orang Kafir

Syara’ telah menentukan untuk kaum Muslim hari raya yang khusus untuk mereka, yaitu Idul Fitri dan Idul Adhha. An-Nasai telah meriwayatkan dari Anas ra. , ia berkata: Nabi saw tiba di Madinah dan orang-orang Madinah memiliki dua hari yang didalamya mereka bermain-main. Maka Nabi saw bersabda:

«أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى»
“Allah SWT telah mengganti keduanya untuk kalian dengan yang lebih baik dari keduanya: Idul Fitri dan Idul Adhha”. Continue reading Seputar Terlibat dalam Perayaan Hari Raya Orang Kafir

Toleransi dalam Islam

TOLERANSI DALAM ISLAM

Wacana toleransi terus dihembuskan tanpa henti. Seolah negeri ini darurat intoleransi. Seakan di negeri ini umat Islam tidak toleran. Faktanya, isu intoleransi selalu menyasar umat Islam.

Baru-baru ini Setara Institute melakukan survey seputar toleransi. Setara Institute memberikan penghargaan terkait Indeks Kota Toleran atau IKT 2018. Mereka melakukan kajian dan pemeringkatan terhadap 94 kota. Hasilnya, Singkawang berada di peringkat satu dengan skor 6.513. Disusul Kota Salatiga. Kota Banda Aceh di posisi terendah dengan peringkat 93 dengan skor 2.830. Berada di bawah Kota Jakarta yang di peringkat 92 (Jejaknasional.com). Continue reading Toleransi dalam Islam

Azab di Dunia Bagi Orang Kafir

Azab di Dunia Bagi Orang Kafir

(Tafsir QS ‘al-Mursalat [77]: 16-19)

أَلَمۡ نُهۡلِكِ ٱلۡأَوَّلِينَ * ثُمَّ نُتۡبِعُهُمُ ٱلۡأٓخِرِينَ * كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ * وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ *

Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang dulu? Lalu Kami mengikutkan bersama mereka (dengan mengazab) orang-orang yang datang belakangan? Demikianlah Kami bertindak para pendosa. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi para pendusta (QS al-Mursalat [77]: 16-19). Continue reading Azab di Dunia Bagi Orang Kafir

TEMBUS BATAS RASIONALITAS: PELAJARAN TAK BIASA DARI KELUARGA IBRAHIM

Manusia memang harus menggunakan akalnya. Manusia memang harus berfikir secara logis. Manusia memang harus bertindak untuk merealisasi kemanfaatan. Semua itu memang benar adanya.

Namun, akal dan rasionalitas manusia tetap saja ada batasnya. Ada banyak fenomena yang terkadang melampaui batas-batas rasionalitas manusia, terutama yang berhubungan dengan Sang Maha Pencipta. Continue reading TEMBUS BATAS RASIONALITAS: PELAJARAN TAK BIASA DARI KELUARGA IBRAHIM

Jaminan Barang dalam Jual beli Kredit

Dalam jual beli kredit (bai’u at-taqsith) penjual boleh mensyaratkan jaminan/agunan (rahn) dari pembeli. (Adnan Sa’duddin, Bai’u At-Taqsith wa Tathbiqatuha al-Mu’ashirah, hal. 187). Namun jaminan ini wajib berupa barang lain, yaitu bukan barang obyek jual beli. Karena menjadikan barang yang dibeli sebagai jaminan (rahn al-mabii’) tidak boleh secara syar’i. Continue reading Jaminan Barang dalam Jual beli Kredit