Hukum dan Peradilan dalam Sistem Islam

HUKUM DAN PERADILAN DALAM SISTEM ISLAM : Menjamin Keadilan Dan Ketegasan Hukum

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi

Salah satu puncak peradaban emas Khilafah adalah penerapan syariah Islam di bidang hukum dan peradilan. Keberhasilan yang gemilang di bidang ini membentang sejak sampainya Rasulullah saw. di Madinah tahun 622 M hingga tahun 1918 M (1336 H) ketika Khilafah Utsmaniyah jatuh ke tangan kafir penjalah (Inggris). (Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham al-Islam, hlm. 44). Continue reading Hukum dan Peradilan dalam Sistem Islam

Mengenal Ulil Amri

Siapakah Ulil Amriy?

           Para ‘ulama tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan kata ulil amriy.  Sebagian ‘ulama menafsirkan ulil amriy dengan penguasa.  ‘Ulama yang lain menafsirkan ulil amriy dengan ‘ulama.  Ada pula yang menafsirkan ulil amriy dengan penguasa dan ‘ulama.   Ada juga yang berpendapat bahwa, yang dimaksud dengan ulil amriy adalah shahabat Rasulullah.  Ada pula yang berpendapat khusus untuk Abu Bakar dan ‘Umar ra.

Menurut Imam Thabariy, sebagian ‘ulama tafsir menafsirkan kata “ulil amriy” dengan “al-umaraa’” (penguasa).[1]  Mufassir yang memegang pendapat ini adalah, al-A’masy, Abu Shalih, Abu Hurairah, dan lain-lain.   Continue reading Mengenal Ulil Amri

Zakat Tanaman dan Buah-Buahan

            Zakat pertanian dan buah-buahan diwajibkan berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah.  Dalil al-Qur’an adalah firman Allah swt:

]وَءَاتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ[

“Dan tunaikanlah haknya (zakatnya) pada hari memetik hasilnya (panen). (TQS. al-An’am [6]: 141)

Adapun dalil as-Sunnah adalah sabda Nabi saw, “Tidak ada zakat di dalam jumlah kurang dari 5 wasaq”. (HR. Mutafaq Alaihi) Continue reading Zakat Tanaman dan Buah-Buahan

Nasab Anak Zina dengan Ayah Biologisnya, Adakah?

Nasab Anak Zina dengan Ayah Biologisnya, Adakah?

Ust. Shiddiq al-Jawi

Soal:

Ustadz, dapatkan anak zina dihubungkan nasabnya dengan ayah biologisnya, yaitu laki-laki yang berzina dengan ibu anak zina itu?

Jawab:
Anak zina adalah anak yang dilahirkan oleh ibunya melalui jalan yang tak syar’i, atau anak dari hasil hubungan yang diharamkan. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 8/430).

Mengenai nasab anak zina dengan ayah biologisnya, seluruh fuqaha sepakat jika seorang perempuan telah bersuami atau menjadi budak dari tuannya (sayyid), lalu dia mempunyai anak zina, maka anak itu tak dapat dinasabkan kepada ayah biologisnya. Anak itu wajib dinasabkan kepada suami sah perempuan tadi, selama tak ada pengingkaran oleh suami dengan li’an. (Wahbah Zuhaili, Ahkam Al Aulad An Natijin an Az Zina, hlm. 13; Ahmad Abdul Majid Husain, Ahkam Walad Az Zina fi Al Fiqh Al Islami, hlm. 28; M. Ra`fat Utsman, Hal Yashihhu Nisbah Walad Az Zina ila Az Zani, hlm. 8; Abdul Aziz Fauzan, Hukm Nisbah Al Maulud Ila Abihi min Al Madkhul Biha Qabla Al ‘Aqad, hlm. 21). Continue reading Nasab Anak Zina dengan Ayah Biologisnya, Adakah?

Ghibah yang dibolehkan menurut Imam An Nawawi dalam Kitab Ar Raudhah

Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Batasan “Ghibah”

“Ghibah” adalah menyebut seseorang di belakang, tentang apa yang tidak disukainya. [Lihat, al-‘Allamah Prof. Dr. Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’, hal. 304]. Hukum asal “Ghibah” adalah haram. Keharaman ini dinyatakan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Q.s. al-Hujurat: 12] Continue reading Ghibah yang dibolehkan menurut Imam An Nawawi dalam Kitab Ar Raudhah

Hakikat Cinta Kepada Allah

           Alangkah bahagianya jika seseorang berhasil meraih dan menggapai cinta Allah swt. Sebab, bila seseorang berhasil mendapatkan cinta Allah, maka hidupnya akan dituntun dan dibimbing oleh Allah swt. Allah akan membimbing penglihatannya tatkala dirinya melihat; Allah akan membimbing pendengarannya, manakala ia mendengarkan.  Sebaliknya,  betapa menyakitkan bila kita merasa mencintai dan dicintai oleh Allah, akan tetapi cinta kita hanya bertepuk sebelah tangan.  Kita merasa mendapatkan kecintaan Allah, akan tetapi sebenarnya kita tidak pernah mendapatkan kecintaan dari Allah swt. Continue reading Hakikat Cinta Kepada Allah

Tafsir Al Ahzab 36: Maksiat, Sesat dan Diancam Azab

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36).

Continue reading Tafsir Al Ahzab 36: Maksiat, Sesat dan Diancam Azab

Hukum Mencela Ulama

Kewajiban Menghormati Orang Mukmin Dan Larangan Menyakiti Mereka.

        Al-Quran melarang orang-orang beriman menyakiti saudara Mukmin tanpa ada alasan yang dibenarkan.   Banyak ayat yang menjelaskan masalah ini, di antaranya adalah Firman Allah swt:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58)

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [TQS Al-Ahzab (33): 57-58] Continue reading Hukum Mencela Ulama

Tafsir Annur 48-50: Ciri Kaum Munafik, Diskriminatif terhadap Hukum Syara’

“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku dzalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dzalim” (TQS al-Nur [4]: 48-50). Continue reading Tafsir Annur 48-50: Ciri Kaum Munafik, Diskriminatif terhadap Hukum Syara’